Keluarga Biru

Featured Post

Berumur Panjang Demi Keluarga Tercinta - My Healthiness My Precious Moment

Di keluarga besar saya, umur para pria mayoritas lebih pendek bila dibandingkan dengan umur para wanita. Sejak lahir saya tidak...

Laman

Hamid Roesdi di Taman Simpang Balapan

Keluarga Biru         4 comments
Taman Simpang Balapan


Warga Malang pasti mengetahui patung berbentuk seorang prajurit di Jl. Simpang Balapan, bertumpu pada pedang panjangnya patung itu berdiri dengan gagah di tengah taman yang mungil. Namun jika ditanya siapa gerangan tokoh yang dijadikan patung tersebut maka pasti banyak yang tidak mengetahuinya. Jangankan nama patungnya, warga Malang mungkin juga tidak tahu nama taman kecil yang sering mereka lewati tersebut.
Sesuai dengan nama jalan tempat taman itu dibuat, nama taman tersebut adalah Taman Simpang Balapan. Taman ini diresmikan tanggal 10 November 1991 oleh Menteri Dalam Negeri di era Presiden Soeharto yaitu Bapak Rudini. Tidak mengherankan jika beliau sendiri yang meresmikan Taman Simpang Balapan karena beliau merupakan Kera Ngalam asli.

Adapun patung prajurit yang berdiri gagah di tengah Taman Simpang Balapan adalah seorang prajurit pejuang kemerdekaan di Malang yang bernama Mayor Hamid Roesdi. Patung Hamid Roesdi diresmikan pada tanggal 10 November 1975 di persimpangan antara Jl. Semeru dan Jl. Arjuna.

Patung Hamid Roesdi di Taman Simpang Balapan

Tapi kemudian dengan seiring keberhasilan Kota Malang dalam meraih dan mempertahankan Piala Adipura untuk yang kesekian kalinya, maka keberadaan patung Hamid Rusdi digantikan oleh Monumen Adipura Kencana. Kemudian patung Hamid Rusdi dipindahkann ke Area Taman Bekreasi Sena Putra Malang. Dan yang terakhir patung Hamid Rusdi berada di Simpang Balapan atau Ijen Boulevard.

Sejarah Hamid Roesdi



Patung Hamid Roesdi di Taman Simpang Balapan

Hamid Roesdi dikenang sebagai sosok pahlawan tiga masa, yaitu masa penjajahan Belanda, Jepang dan Kemerdekaan yang sangat konsisten memperjuangkan hak-hak rakyat. Beliau lahir pada hari Senin Pon 1911 di Desa Sumbermanjing Kulon, Pagak, Malang Selatan. Pada masa penjajahan Belanda, Hamid Roesdi sangat aktif di bidang kepanduan dan tergabung dalam 'Pandu Ansor' karena beliau juga seorang guru agama sekaligus staf Partai NU. Beberapa tahun kemudian bekerja di Malang sebagai seorang sopir di penjara Besar Malang (Lowokwaru). Pada tanggal 8 Maret 1942 Jepang memasuki kota Malang dan mulai memerintahkan membuat barisan Heiho, Seinedan, Keibodan dan Djibakutai sekaligus melakukan tekanan fisik pada rakyat.
Melihat situasi itu, Hamid Roesdi keluar dari pekerjaannya dan mulai membela nasib rakyat dengan menyusup ke PETA (Pembela Tanah Air) tahun 1943 yang dibentuk atas usul Gatot Mangkupraja dan ditugaskan di Malang dengan pangkat Sudanco (Letnan I). Selain berlatih militer, ia juga sibuk mempersiapkan laskar rakyat untuk menentang Jepang sendiri. Pada malam hari tanggak 3 September 1945 diumumkan daerah karesidenan Surabaya masuk wilayah RI, Hamid Roesdi mulai melucuti tentara Jepang di Malang. Pada tahun 1946 Hamid Roesdi menjabat sebagai perwira Staf Divisi VII Suropati dengan pangkat Mayor dan bertempat tinggal di Jl. Semeru (sekarang Bank Permata).

Patung Hamid Roesdi di Taman Simpang Balapan

Karena dianggap berhasil dalam menangani pelucutan senjata Jepang, kemudian Hamid Roesdi diangkat sebagai komandan Batalyon I Resimen Infanteri 38 Jawa Barat dan menyelesaikan pertempuran di sana dengan sukses. Sekembalinya dari Jawa Barat beliau dinaikkan pangkatnya dari Letnan Kolonel menjadi Komandan Pertahanan daerah Malang di Pandaan-Pasuruan.
Pada Clash I 1947 Hamid Roesdi dengan gigih memimpin pasukan mempertahankan Kota Malang dari tentara Belanda. Sebelum Belanda memasuki Pandaan, Hamid Roesdi berkeliling kota menaiki Jeep untuk memerintahkan seluruh rakyat agar 'membumi hanguskan' bangunan Belanda.
Ketika Kota Malang tidak dapat dipertahankan lagi, beliau membuat pertahanan di Bululawang dan menyusun strategi merebut Malang kembali. Tengah malam  8 Maret 1949 kondisi perang sangat genting, Hamid Roesdi datang dan berpamitan pada istrinya, Siti Fatimah yang belum sempat dikaruniai anak karena selalu hidup dalam persembunyian. Setelah pamit untuk terakhir kalinya, beliau tidak pernah kembali lagi selama-lamanya.

Patung Hamid Roesdi di Taman Simpang Balapan

Sebagai warga Malang kita sepatutnya mengenang dan mengapresiasi jasa besar Mayor Hamid Roesdi yang telah berjuang melindungi Malang di jaman penjajahan hingga kemerdekaan Indonesia. Para generasi muda kota Malang harus mencontoh semangat dan jiwa kepemimpinan seorang Hamid Roesdi yang rela mengorbankan jiwa dan raganya untuk bangsa tercinta. Tak hanya pemberani, Mayor Hamid Roesdi juga kreatif karena bersama anak buahnya Suyudi Raharno menciptakan Bahasa Walikan atau Osob Kiwalan yang sampai sekarang menjadi ciri khas Malang. Bahasa Walikan ini dipergunakan sebagai bahasa komunikasi di antara para pejuang karena saat itu banyak sekali penyusup yang merupakan mata-mata Belanda. Dengan semua kiprah dan perjuangannya di atas, maka kita harus bangga dengan pahlawan Kera Ngalam asli yaitu Mayor Hamid Roesdi.

Patung Hamid Roesdi di Taman Simpang Balapan

Patung Hamid Roesdi di Taman Simpang Balapan


Sumber Referensi:
http://dssumbermanjingkulon.blogspot.com/2012/11/smkl-lokasinya-terletak-di-jl.html
http://download.portalgaruda.org/article.php?article=194280&val=6515&title=Perancangan%20Buku%20Esai%20Fotografi%20Tentang%20Kawasan%20Idjen%20Boulevard,%20Malang

Published by Keluarga Biru

Keluarga Biru adalah blog milik Ihwan Hariyanto dan Ivonie Zahra. Mereka menulis tentang parenting, traveling dan kuliner yang mereka lakukan bersama dua buah hati mereka Aiman dan Aira.
Follow us Google+.

4 comments:

  1. Weleh, patungnya sampai pindah2 gitu ya mas lokasinya :) Semarang juga punya osob kiwalan lhooo...cuma kaidah pembalikannya berbeda dengan Ngalam dan Yogyes ;) Saya yg asli orang Semarang sampai sekarang enggak mahir tapinya pake boso walikan itu hihiiii...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya kayak mendiang Mayor Hamid Roesdi yang berpindah-pindah saat gerilya melawan penjajah.
      Boleh dong dikasih contoh kayak gimana MBak osob kiwalan ala Semarang itu ;-)

      Delete
  2. Wan itu salah satu fotonya kukira kayak Manneken Pis di Belgia :D ini tamannya sepi ya? gak ada yang pacaran di sini apa? eaaa

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yang nomer berapa Yan? Nanti aku mau foto lagi objek lain yaitu patung Drs. Syaiful Anwar, latar belakangnya gereja tua gitu. Dulu pas temenku nampang di sana kayak lagi foto di Eropah :D
      Sepii, nggak laku Yan tamannya. Yayan nanti kalau ke Malang mau pacaran di sini? Boleh kok asal bawa pasangan ya :D

      Delete

Jika menurut Anda artikel ini berguna mohon dukungannya dengan memberikan donasi via PayPal untuk maintenance blog Keluarga Biru. Terimakasih ^_^

Google+ Followers

Followers

Total Pageviews

Contact

Powered by Blogger.