Keluarga Biru

Featured Post

Berumur Panjang Demi Keluarga Tercinta - My Healthiness My Precious Moment

Di keluarga besar saya, umur para pria mayoritas lebih pendek bila dibandingkan dengan umur para wanita. Sejak lahir saya tidak...

Laman

Menempuh Medan Berat Demi Narsis di Pantai Serang yang Berombak Dahsyat

Keluarga Biru         13 comments



Hai Hallo jumpa lagi dengan Keluarga Biru, kali ini saya mau cerita short trip kami menjelajahi Pantai Serang. Pertama kali mendengar namanya, saya langsung teringat dengan kota Serang, ibukota provinsi Banten. Tapi pantai yang dikenal memiliki hamparan pasir putih yang indah dan ombak yang cukup dahsyat ini lokasinya ada di Desa Serang, Kecamatan Panggungrejo, Kabupaten Blitar, Jawa Timur. Kalau di pusat kota Blitar jaraknya sekitar 45 km ke arah barat daya.


Kami mengawali perjalanan dari Wlingi pukul sembilan pagi menuju Blitar. Cukup mudah untuk menemukan papan penunjuk ke arah Pantai Serang di daerah Lodoyo, Blitar. Tapi saat masuk di kawasan pedesaan kami harus bertanya-tanya ke penduduk setempat arah menuju Pantai Serang ini. Medan menuju Pantai Serang mulai berat ketika kami sampai di kawasan Panggungrejo dimana kami harus melewati perbukitan dengan jalan yang menanjak dan bergelombang. Hamparan sawah dan kebun yang menghijau berganti dengan hutan jati dengan pohonnya yang meranggas. 


Bahkan di beberapa tempat ada yang tampak baru saja ditebangi dan dibakar, mungkin pohon jatinya baru saja dipanen dan lahannya mau dimanfaatkan sebagai ladang. Ditambah lagi sekarang sedang musim pancaroba, teriknya sinar matahari makin membuat jelajah Pantai Serang ini terasa jauh lebih berat dari jelajah kami ke Pantai Tambakrejo.




Saya mengira setelah berhasil melalui perbukitan jati yang tandus itu, perjuangan kami akan terbayar dengan segera melihat pemandangan pantai yang indah. Tapi dugaan saya salah besar! Karena itu baru separuh perjalanan. Masih ada satu desa yang harus kami lalui dengan keadaan jalan yang bervariasi, ada yang mulus, bergelombang bahkan masih harus melewati jalan yang menanjak dan menurun sekali lagi. Anda benar-benar harus mempersiapkan stamina yang prima, kesabaran dan keteguhan hati untuk melanjutkan perjalanan. Mungkin terdengar lebay tapi itulah yang saya rasakan saat itu. Rasanya pengin nyerah aja deh sebab hidung saya sama sekali tidak mencium bau air laut yang khas. Itu kan tandanya masih jauh pantainya.


Untunglah, kami akhirnya menemukan gapura yang menjadi pintu masuk ke kawasan wisata Pantai Serang. Para pengunjung dikenakan tiket masuk Rp.3000 untuk dewasa, Rp.2000 untuk anak-anak. Karena kami bawa motor hanya kena ongkos parker Rp.1000 saja. Sangat murah sekali ya, oke mari kita lihat apa yang bisa kita dapatkan di Pantai Serang ini.

Jalan setelah gapura masuk Pantai Serang kondisinya jauh lebih baik, mulus dan tebal aspalnya bikin saya jadi semangat lagi memacu Vega Biru kesayangan kami. Ketika sudah sampai di pantainya kami melihat banner bertuliskan Serang Festival 2015. Acara ini diadakan oleh Pemkab Blitar yang mana banyak sekali rangkain acaranya, mulai dari Kenduri Sedekah Bumi, Lomba Layang-Layang, Volly Competition, Bazzar/Pameran Batu Akik, pengajian dan pertunjukkan wayang dan puncaknya adalah pada tanggal 14 Oktober yaitu Upacara Larung Sesaji 1 Suro. Acara puncak ini bertepatan dengan Tahun Baru Islam. Di pantai dan gunung memang biasanya mengadakan acara sejenis itu untuk merayakan Tahun Baru Islam seperti di Pantai Balekambang, Gunung Kawi dan Bromo.


Nah saat kami datang waktunya bersamaan dengan Volley Competition sehingga kami bisa menyaksikan para atlet bola volly putri sedang bertanding. Dengan kaos warna-warni mereka beraksi dengan penuh semangat, tak peduli dengan sinar matahari yang membakar kulitnya. 



Sayang penontonnya hanya sedikit, mungkin karena promosinya kurang gencar. Coba kalau Pemkab Blitar mau menggandeng para blogger, pasti jauh lebih ramai deh he he he.  #ModusBanget


Ombak di Pantai Serang ini memang dahsyat sehingga para pengunjung dilarang untuk berenang di pantainya. Itulah sebabnya kenapa sebagian besar pengunjung memilih duduk-duduk menggelar tikar di bawah deretan pohon cemara yang rindang. Ada yang datang serombongan keluarga besar menaiki mobil, tak lupa membawa bekal dari rumah, amboy sedap benar makan di pantai. Tapi banyak juga yang datang berdua atau bertiga saja seperti kami. Setelah menemukan tempat yang masih kosong, kami melepas jaket dan sepatu kami. 



Karena haus sehabis menempuh perjalanan yang jauh dan kondisi yang panas, saya langsung memesan es degan di salah satu warung yang tak jauh dari situ. Penyajian es degannya unik yaitu disajikan langsung di kelapanya jadi tampak lebih menggoda iman dan rasanya, so pasti lebih segar. Cuman kita harus telaten mengerok sendiri jika ingin memakan daging degannya.





Sementara Aim lagi asyik naik odong-odong yang kebetulan ada di sana. Tarifnya Rp.5000 bisa bermain sepuasnya. Tapi Aim nggak lama main odong-odongnya sebab sudah ngebet pengin bermain mobil mainannya di atas hamparan pasir yang lembut.






Tidak seperti di Pantai Tambakrejo dimana ada penjual lalapan ikan tuna asap yang lezat, di sini kami hanya makan bakso. Iya bakso lagi, bakso lagi. Ada sih penjual ikan asap tapi untuk dibawa pulang. Ya udah nggak apa-apa makan bakso mulu, yang penting perut nggak keroncongan. Pas ke toilet bersama Aim, saya melihat ternyata ada warung yang menjual menu ikan bakar tapi letaknya jauh dari pantai.




Meski sudah ada larangan mandi di pantai namun ada satu dua pengunjung yang nekat melanggar larangan itu. Beberapa kali terdengar suara petugas penyelamat pantai menghimbau para pengunjung yang sedang mandi di pantai untuk naik. Emang sih, kalau ke pantai tapi nggak main air atau mandi di pantainya itu seperti sayur tanpa garam, nggak asyik! Biar nggak garing kami pun akhirnya memilih berfoto-foto di pinggir pantai. Dan inilah parade foto narsis Keluarga Biru di Pantai Serang.








Pukul dua siang kami putuskan untuk cabut dari Pantai Serang. Tak lupa kami membeli ikan di salah satu nelayan untuk oleh-oleh buat kerabat dan dimasak sendiri di rumah. Bagi Anda yang ingin ke Pantai Serang kami sarankan berangkat lebih pagi agar tidak kepanasan di jalan. Lebih seru jika datang ramai-ramai dan bawa bekal makanan dari rumah sebab tidak ada kuliner khas yang bisa kita nikmati di sana. 




Published by Keluarga Biru

Keluarga Biru adalah blog milik Ihwan Hariyanto dan Ivonie Zahra. Mereka menulis tentang parenting, traveling dan kuliner yang mereka lakukan bersama dua buah hati mereka Aiman dan Aira.
Follow us Google+.

13 comments:

  1. Om, itu ombak dahsyatnya kok gak kelihatan yaak, ihh dedek lucuunyaa. Hahahha adanya cuma bakso, coba ada lalapan pasti wisatawan anteng di situ yak :))

    ReplyDelete
    Replies
    1. Motretnya kurang pas Mbak, tapi emang nggak ada yang mandi.
      Iya pastinya lebih betah kalo ada kuliner yang khas.

      Delete
  2. berapa jam perjalanan wan naik motor ?

    ReplyDelete
  3. Ternyata blitar, aku pikir beneran serang banten haha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yuk main ke sini Om, bebas deh berkancut ria :-D

      Delete
  4. Aku pernah ke pantai iniiiii.... dulu, sekitar tahun 2003 :D Diajak ama temenku yang asli Blitar...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kayaknya hampir semua tempat yang aku tulis pasti udah pernah kamu datangi ya Dee. Tahun 2003 medannya gimana tuh?

      Delete
  5. Aku pernah ke pantai iniiiii.... dulu, sekitar tahun 2003 :D Diajak ama temenku yang asli Blitar...

    ReplyDelete
  6. Blitar punya banyak pantai cakep juga ya... Pantai di malang kayaknya lebih banyak dan cakep2

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nanti giliran explore pantai-pantai di Malang, dulu udah pernah sih Mbak tapi pas masih bujang :D

      Delete

Jika menurut Anda artikel ini berguna mohon dukungannya dengan memberikan donasi via PayPal untuk maintenance blog Keluarga Biru. Terimakasih ^_^

Google+ Followers

Followers

Total Pageviews

Contact

Powered by Blogger.