Keluarga Biru

Featured Post

Berumur Panjang Demi Keluarga Tercinta - My Healthiness My Precious Moment

Di keluarga besar saya, umur para pria mayoritas lebih pendek bila dibandingkan dengan umur para wanita. Sejak lahir saya tidak...

Laman

Reaksi Aiman Ketika Aira Lahir

Keluarga Biru         12 comments





Sejak Baby Aira masih di dalam kandungan, kami sudah memberitahukan kepada Aiman jika dia akan memiliki seorang adik. Demikian juga setiap kali kontrol ke dokter kandungan kami juga mengajak Aiman. Alhamdulillah Aiman antusias setiap kali diajak kontrol, manakala dokter melakukan USG dia minta digendong agar bisa ikut melihat juga. Setiap kali hasil USG dicetak, dia langsung memintanya.

Kami pun senang melihatnya karena itu menandakan Aiman juga menyambut gembira kehadiran adiknya. Selama ini Aiman juga terlihat senang jika melihat bayi atau anak yang lebih muda darinya. Misalnya pada anak sepupu saya, Aiman mau bermain dan beberapa kali minta diajak ke rumah sepupu saya.

Kecemburuan Kakak pada Adik

Namun yang namanya anak kecil pastilah memiliki rasa cemburu. Meskipun antusias saat diajak kontrol namun adakalanya Aiman menunjukkan kecemburuan. Misalnya saat kami mengajaknya membeli baju dan perlengkapan bayi untuk Baby Aira, dia ikut-ikutan minta dibelikan. Ketika kami sedang memilih kain bedong, Aiman langsung tertarik saat melihat gambar kain bedongnya yang berupa hewan-hewan kartun yang lucu.
“Aim mau ini, gajah, jerapah, harimau..”
“Lho ini buat adik, Aim kan udah besar nggak pakai kain bedong lagi.”
“Aim mau iniiih…!” sambil menyahut satu kain bedong berwarna biru dengan gambar aneka hewan lucu.
Akhirnya kami pun membelikan Aiman kain bedong juga. Tahu nggak, kain bedong itu kemudian dipakai Aim untuk apa? Sebagai selimut hihihi.






Semua Diklaim Miliknya

Untuk baju dan perlengkapan bayi untuk Aira, kami memang tidak membeli semua. Baju dan perlengkapan milik Aiman yang masih layak pakai kami gunakan kembali. Nah ketika melihat kami memilih-milih baju dan perlengkapan bayi, Aiman ikut nimbrung.
“Ini milikku ya?” tanya Aiman sambil memegang mainan bayi miliknya yang sudah lama kami simpan.
“Iya ini punya Mas Aiman dulu, sekarang mau dipakai Adik. Nggak apa-apa ya?”
“Nggak boleh, ini milikku.” Dan mainan itu langsung diambil dan dibawa lari ke kamar belakang untuk diumpetin.




Nggak hanya mainan, bahkan selimut dan kasur bayi milik Aiman pun juga nggak boleh dipakai oleh adiknya. Awalnya kami mencoba untuk memberinga pengertian namun nggak mempan dan akhirnya kami pun hanya bisa pasrah.
Tapii ternyata nggak hanya baju dan perlengkapan miliknya yang tidak boleh dipakai Aira, bahkan bantal guling yang baru kami beli pun diklaim jugaa! Kalau untuk hal ini, kami agak kencengin si Aiman. Kami bilang dengan tegas kalau bantal guling baru itu milik adiknya, Aiman sudah besar jadi sudah tidak cukup/muat lagi memakainya. Alhamdulillah Aiman mau mengerti meski kadang masih suka kumat-kumatan.

Malu-Malu Saat Pertama Berjumpa

Ketika pertama kali melihat Aira di rumah sakit, Aiman tidak langsung ngeh jika bayi di hadapanya adalah adiknya. Ya iyalah, namanya juga masih balita. Malahan Aiman mengira kalau adiknya masih ada di perut Mama Ivon karena perutnya masih belum kempis.
Ketika kami memberitahunya jika bayi yang ada di depannya itu adalah adiknya, Aiman terlihat tersipu malu. Mungkin antara percaya dan tidak gitu ya. Mau mendekat untuk mencium masih ragu dan melihat ke arah kami. Seperti tampak pada foto di bawah ini.





Jika ditanya siapa bayi yang dipangku atau digendong Mama, Aiman masih malu-malu dan malah menjawab kalau Aira adalah adiknya Mama Ivon :D


Cara Aiman Menyayangi Aira

Meskipun menunjukkan rasa iri dalam hal kepemilikan barang-barang, Aiman menyayangi Aira dengan caranya sendiri. Aiman suka sekali menciumi Aira, tak peduli adiknya lagi terjaga atau tidur pasti deh minta cium. Kami sampai kewalahan dan capek bibir memberinya pengertian bahwa kalau mencium adik tidak boleh sering-sering.
Cara Aiman menciumi Aira juga agak-agak bikin parno. Gimana nggak parno, kadang Aiman mencium Aira dengan penuh kegemasan sampai ditekan-tekankan bibirnya pada pipi atau kepalanya Aira. Bahkan pernah Aira sampai terbangun dan menangis karena lagi nyenyak tidur diciumin sama kakaknya.
Trus kalau Aira sedang menangis entah karena minta mimik atau diapernya sudah penuh, Aiman akan bingung ikut mendiamkan adiknya.
“Cup-cup Dek, cup-cup,” sambil menepuk-nepuk Aira.
Kalau yang ditepuk-tepuk itu pantatnya Aira sih nggak masalah, ini wajaah wakakakaka




Jangan bayangin nepuk-nepuknya lemah lembut gitu, nepuknya ala Aiman gitu jadi kesannya malah kayak nabokin Aira, hadeeeuh.
Kepedulian atau mungkin rasa kepo Aiman pada Aira juga sangat besar. Kalau saya atau Mama Ivon sedang mengganti diaper-nya Aira, Aiman selalu nanyain:
“Adek pipis ya? Adek pup ya? Mana pup nya?”
Dia baru hilang keponya kalau kami sudah menunjukkan diaper yang ada pipis atau pupnya.


***


Kami paling sebel kalau Aiman tahu-tahu naik ke tempat tidur dan lonjak-lonjak seenaknya, padahal di sebelahnya Aira baru saja ditidurin. Kadang bisa dibilangin dengan pelan, namun seringnya harus dibilangin dengan agak keras bahkan dicubit baru mau turun. Sebenarnya kami juga nggak mau seperti itu tapi Aiman memang lagi fase-fasenya susah buat dibilangin. Seakan-akan dia ingin nunjukkin egonya sebagai satu-satunya penguasa di rumah.
Terlepas dari semua sikap dan tingkah laku Aiman yang ajaib semenjak kelahiran Aira, Aiman sudah mempunyai sense of belonging yang begitu besar pada Aira. Kami pernah keluar bertiga dan Aira kami titipin kepada Bulek Min.
Eh ketika Bulek Min mengambil Aira dan membawanya dari rumah kami, Aiman marah dan menangis.
“Adek jangan dibawa, jangan dibawa!”
Padahal Aiman selama ini juga lengket sama Bulek Min, dulu kalau kami pergi berdua juga suka nitipin Aiman kepada beliau. 



Itulah cerita tentang reaksi dan tingkah laku Aiman ketika Aira lahir. Kecemburuan seorang kakak ketika adiknya lahir itu hal yang lumrah, sebagai orang tua kita harus memberikan pengertian kepada sang kakak bahwa kehadiran adik tidak akan mengurangi kasih sayang kita kepadanya. Kami berdoa semoga Aiman dan Aira selalu kompak hingga besar nanti, saling mendukung dalam susah dan senang. Saling mengingatkan jika salah satu berbuat salah. Dan semoga kami bisa mengasuh, mendidik dan menyayangi mereka dengan adil, aamiin.





Published by Keluarga Biru

Keluarga Biru adalah blog milik Ihwan Hariyanto dan Ivonie Zahra. Mereka menulis tentang parenting, traveling dan kuliner yang mereka lakukan bersama dua buah hati mereka Aiman dan Aira.
Follow us Google+.

12 comments:

  1. hahaha rata2 emang begitu tuh kalo masih balita punya adek. lucu tp butuh kesabaran ekstra. semangai yaa buat mas Aiman (PamelaFitrah)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kamu siap-siap aja Pam nanti kalo adiknya Aliya lahir.

      Delete
  2. Lucunya, Aiman aslinya penuh kasih
    Eh, ntar gimana ya reaksi Juna kalau punya adek?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Wit, anak kecil menyayangi dengan caranya sendiri.
      Naah biar ga bertanya-tanya segera aja kasih adik buat Juna hi3

      Delete
  3. Jangan lupa diawasi ya, jangan dibiarkan berdua sendirian dulu. Soalnya kadang kakaknya tu menunjukkan ekspresi sayangnya ke adeknya, kdng suka berlebihan hehe #pengalaman :))

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hmm komenmu ini kok bikin aku kuatir dan kepo banget emang apa yang dilakuin Maxy pada Dema? :-0

      Delete
  4. Aku jadi pengen ngasi adek buat Ais. hihihi
    Btw tulisannya itu kok kecil-kecil banget, susah bacanya, hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ndang diwujudin aja Mbak, kan Ais wes gedhe.
      Udah aku edit kok ukuran font-nya.

      Delete
  5. Waan, aku aja pas pertama kali ponakan lahir, malu2 haha sampe dibilang ibukku, "nah itu ponakannya dicium dong" hahahaha.

    ReplyDelete

Jika menurut Anda artikel ini berguna mohon dukungannya dengan memberikan donasi via PayPal untuk maintenance blog Keluarga Biru. Terimakasih ^_^

Google+ Followers

Followers

Total Pageviews

Contact

Powered by Blogger.