Keluarga Biru

Featured Post

Berumur Panjang Demi Keluarga Tercinta - My Healthiness My Precious Moment

Di keluarga besar saya, umur para pria mayoritas lebih pendek bila dibandingkan dengan umur para wanita. Sejak lahir saya tidak...

Laman

Tips Mengatasi Terrible Two

Keluarga Biru         No comments
Posenya Terrible Two banget :P

Tanggal 29 Januari nanti Aiman genap berusia dua tahun.  Dari segi fisik Alhamdulillah Aiman tumbuh sempurna tidak kurang suatu apapun, dia sangat aktif sekali. Kalau dari kemampuan berbicara, Aiman mempunyai beberapa kosakata yang sudah bisa dia ucapkan dengan jelas, contohnya: mama, maem (makan), enak, lagi, mobuel (mobil), tutup, adek, emoh (tidak mau). Kalau yang terdiri atas dua kata baru satu sih yaitu nggak enak :P

Namun entah kenapa belakangan ini, Aiman beberapa kali menunjukkan perilaku yang selama ini disebut Terrible Two. Aiman mulai sering menunjukkan penolakan jika kami mengajak/meminta melakukan sesuatu dan malah melakukan sesuatu yang semau gue.  Beberapa perilaku yang benar-benar menguji kesabaran kami antara lain:


  • · Tidak mau mandi: terhitung sudah dua kali dia menolak untuk mandi. Semua pakaian sudah dilepas, air hangat juga sudah disediakan. Eh giliran mau diguyur air malah bilang: “Emoh-emoh!” sambil menampik tangan saya.
  • · Tidak mau berpakaian: seakan belum cukup ujian sabar di kamar mandi, Aiman kembali menolak saat mau dipakaikan pampers dan celana. Tapi saya sudah tahu triknya, saya akan memakaikan singlet dulu atau mengajaknya berdiri ke jendela kamar. Nah saat dia asyik melihat keluar, segera saya pakaikan pampers dan celananya.
  • · Memilih sepatu: ini yang paling sering bikin Mama Ivon emosi tingkat dewa. Ketika kami mau mengejar waktu saat akan bepergian, Aiman bersikeras dengan pilihan sepatunya. Pernah dia ngotot memakai kaus kaki yang ada belnya dan sepatu. Jelas tidak muat, eh dia tetap saja ngotot sambil nangis-nangis.
  • · Tidak mau diam: kalau masih di dalam rumah sih nggak masalah. Entah itu di dalam toko, jalan atau di atas motor, dia sama sekali tidak mau diam. Lari ke sana ke mari, ambil barang ini itu. Pernah juga ketika kami sedang makan di sebuah warung makan, di saat makanan kami sudah datang dia malah menarik tangan saya dan mengajak keluar. Atau saat lihat kucing di jalan, Aiman langsung heboh bilang: meong-meong dan ingin mengikuti  kemana kucing itu berjalan.
  • · Tidur larut malam: sebenarnya ini masalah klasik sih dan kami hampir tiap malam begadang. Namun sekarang jadi ada drama di atas tempat tidur karena setelah disusui Aiman bukannya ngantuk eh malah aktif lagi. Mama Ivon tentu saja senewen dan nggak mau nyusui lagi sementara Aim masih pengin nyusu lagi.

Nah, tadi sore saya lepas kontrol. Udah badan lagi capek eh Aim pake acara menolak gitu pas saya mau mengguyurkan air ke tubuhnya. Awalnya saya berhasil membasahi tubuhnya setelah saya negosiasi, saya sabunin trus ketika mau saya basuh dia menolak lagi. Padahal saya juga tidak melarangnya bermain.

“Kalau tidak dibasuh nanti kotor.”
“Emooh-emooh..!” tolak Aim sambil menjauhkan tangan saya darinya.

Saya coba cuek saja dan terus mengguyurkan air ke badannya. Trus kan saya suruh dia naik ke bak, dia juga menolak. Saya angkat dia, eh tetep nolak, malah kakinya mancal-mancal gitu. Karena takut kalau dia terpeleset saya dudukkan dengan paksa di bak. Aim nangis sambil tetap bilang emoh-emoh.
Entah setan mana yang merasuki, saya lalu mengguyur Aim berkali-kali.

“Papa itu juga capek, kamu jangan cari gara-gara!”

Saya tidak peduli meski Aim nangis, tetep saja saya guyur dia. Mungkin tadi semacam emosi yang terpendam, saya memang biasanya lebih memilih membiarkan Aim melakukan apa yang dia inginkan sepanjang itu tidak membahayakan dirinya. Misal membiarkan dia berlama-lama mainan ikan-ikanan saat mandi, kalau sama Mama Ivon sih udah nggak boleh.

Beneran deh, setelah melakukan hal itu rasanya saya menyesal dan merasa bersalah sekali. Apalagi saya sempat membentak dia beberapa kali, tak terbayang berapa milyar jaringan sel-sel di otaknya yang terputus karena emosi saya yang sesaat itu. Padahal selama ini di antara kami berdua, saya lah yang paling sabar jika Aiman mulai bertingkah.  Saya sampai hampir nangis saat berdoa selepas sholat maghrib, meminta maaf pada Allah dan berdoa semoga apa yang saya lakukan tidak berdampak buruk pada kejiwaan Aiman :-(

Alhamdulillah setelah pulang dari masjid, Aiman tetap mau saya gendong. Saya langsung meminta maaf padanya. Setelah itu Aiman saya suapi karena sudah waktunya makan malam, semua berjalan seperti tidak pernah terjadi apa-apa. Anak kecil memang mudah sekali memaafkan dan melupakan, terimakasih ya Nak.

Berdasarkan kejadian tadi sore, saya akhirnya gugling dan blogwalking mencari referensi dan sharing pengalaman tentang Terrible Two ini. Salah satu artikel yang bagus saya dapatkan di sini. Berikut adalah Tips Mengatasi Terrible Two:

1. Anggap wajar
Tanpa melewati masa ini, pertumbuhannya di masa datang akan lebih buruk. "Amarah adalah bagian dari masa pertumbuhan anak," ujar Katherine C, anggota Circle Mom.

Menurutnya, balita memiliki sikap yang kompulsif. Anak akan mendengar untuk pertama kalinya dan akan kembali melakukan hal yang tidak Anda sukai dua detik setelahnya. Pada masa ini, sulit bagi mereka memenuhi tuntutan Anda. Jadi ada baiknya Anda bersabar.

2. Tenang

Sikap mengancam, mengarang cerita, menakut-nakuti, nada membentak, terkadang tidak akan membuat anak  mendengar perkataan. Namun, nada yang lembut dan tenang untuk menjelaskan akan mengalihkan perhatiannya kepada Anda.

3. Beri penghargaan
Biasanya, anak akan rewel menjelang tidur. Bahkan, banyak orangtua yang memenuhi tempat tidurnya dengan mainan. Namun, memberinya sebuah hadiah kecil dapat membuat si kecil lebih tenang.

Membawanya keluar sebentar melihat bulan, memberi camilan sehat dan mendongeng sebelum tidur membuat anak lebih mudah lelap. Ajak dia tidur di waktu yang sama tiap malam membuatnya mengerti kapan waktu tidur dan bermain.
Ajak anak Anda membersihkan tempat tidurnya dengan janji akan memberinya sebuah hadiah kecil.

4. Beri perhatian

Balita mengabaikan apa yang Anda suruh karena mereka senang diperhatikan. Bila telah mengerti, mereka akan cepat mendapatkan perhatian Anda jika berlaku nakal.
Jadi, coba berikan pujian untuk setiap hal baik yang ia lakukan. Hal ini akan mendorong mereka berperilaku lebih baik. Simpan gambar dan bagan yang memuat perilaku baik dan hapus saat ia nakal. Lambat laun, buah hati akan mengetahui maksud Anda.


5. Coba sistem 'time out'
Ada penghargaan, ada pula hukuman. Jika anak Anda menghiraukan setiap perkataan Anda, Anda dapat menaruhnya di sebuah kursi selama beberapa menit. Memang perlu memakan waktu berhari-hari, tetapi akan bekerja dengan baik jika dilakukan secara konsisten.


6. Katakan 'tidak'

Terkadang, cara terbaik menangani balita adalah mengatakan tidak dengan tegas. 

Oke, saya akan mencoba menerapkan enam hal yang disebutkan di atas, tentunya Mama Ivon juga. Semoga kami berhasil melewati fase Terrible Two ini dengan baik, aamiin.


Salam Hangat,


Keluarga Biru
Mencerahkan Hati, Menenangkan Jiwa


Published by Keluarga Biru

Keluarga Biru adalah blog milik Ihwan Hariyanto dan Ivonie Zahra. Mereka menulis tentang parenting, traveling dan kuliner yang mereka lakukan bersama dua buah hati mereka Aiman dan Aira.
Follow us Google+.

0 comments:

Jika menurut Anda artikel ini berguna mohon dukungannya dengan memberikan donasi via PayPal untuk maintenance blog Keluarga Biru. Terimakasih ^_^

Google+ Followers

Followers

Total Pageviews

Contact

Powered by Blogger.