Keluarga Biru

Featured Post

Berumur Panjang Demi Keluarga Tercinta - My Healthiness My Precious Moment

Di keluarga besar saya, umur para pria mayoritas lebih pendek bila dibandingkan dengan umur para wanita. Sejak lahir saya tidak...

Laman

Mewujudkan Difabel Corner di Perpustakaan UB

Keluarga Biru         6 comments


Siti Nur Lathifah
Siti Nur Lathifah

“Terimakasih kepada Perpustakaan UB, karyawan dan pengelolanya yang sudah bekerja keras dan melayani kami. Saya sebagai mahasiswa difabel (tuna rungu) berharap lingkungan perpus ini ramah, ada akses khusus untuk disabilitas, melayani kami para difabel dengan baik. Saya berharap perpus ini ada fasilitas yang lengkap untuk mahasiswa/i disabilitas. Kami tidak perlu dikasihani tetapi kami ingin diberi kesempatan. Terimakasih banyak.”
Begitulah bunyi testimoni yang ditulis oleh Siti Nur Lathifah, mahasiswi FIB Jurusan Seni Rupa dalam Lomba Testimoni yang diadakan oleh Perpustakaan Pusat UB di event Open House Perpustakaan dalam rangka meramaikan Dies Natalis UB ke 52. Testimoninya yang jujur itu berhasil menyentuh hati dewan juri sehingga terpilih sebagai juara pertama.
Keberadaan mahasiswa/i yang difabel di Universitas Brawijaya memang bukan hal yang baru lagi. Pada tanggal 19 Maret 2012 UB mendirikan Pusat Studi dan Layanan Disabilitas Universitas Brawijaya (PSLD UB) yaitu sebuah lembaga yang berfungsi sebagai pusat penelitian tentang isu-isu disabilitas dan pemberian layanan bagi penyandang disabilitas di Universitas Brawijaya.
Pendirian PSLD UB dilatar belakangi oleh kenyataan di Indonesia bahwa tidak adanya kesempatan bagi penyandang disabilitas untuk mengenyam pendidikan di perguruan tinggi. Padahal hak pendidikan non-diskriminatif bagi penyandang disabilitas dilindungi oleh Undang-Undang dan Konvensi Internasional.
Terbatasnya kesempatan bagi penyandang disabilitas menimbulkan beberapa akibat antara lain jumlah penyandang disabilitas yang mempunyai ijasah S1 di Indonesia kurang dari satu persen. Selain itu kaum difabel menjadi tidak mempunyai banyak pilihan di dalam dunia kerja misalnya penyandang tuna netra kebanyakan menjadi tukang pijat atau pengamen. Bahkan yang lebih menyedihkan mereka yang tak mendapat pekerjaan akhirnya menjadi beban bagi keluarganya atau mengemis.
Langkah-langkah konkrit yang dilakukan UB melalui PSLD demi memberi kesempatan bagi kaum disable adalah dengan membuka seleksi masuk untuk penyandang disabilitas, yaitu Seleksi Program Khusus Penyandang Disabilitas (SPKPD) sejak tahun 2012. Hal ini menjadikan UB sebagai pelopor kampus inklusif di Indonesia. Dari program SPKPD ini UB berhasil menjaring para remaja difabel yang mempunyai minat dan keinginan yang besar untuk menempuh pendidikan di perguruan tinggi. Dari tahun ke tahun jumlahnya mengalami peningkatan.
Dan yang membanggakan adalah para mahasiswa difabel ini ternyata mampu berprestasi baik secara akademik maupun non akademik. Sebagai contoh Fikri Muhandis mahasiswa tuna rungu asal Bantul Yogyakarta yang mengambil jurusan seni rupa angkatan 2012, dia meraih IPK 3,75 di semester pertama. Lalu di bidang non akademis ada Yohanna Febrianti Hera, mahasiswi tuna netra angkatan 2012 yang berhasil menjadi finalis ajang pencarian bakat X-Factor 2013 dan Siti Nur Lathifah, mahasiswi tuna rungu yang mempunyai prestasi di dunia modeling dan pernah diundang tampil di acara Kick Andy dengan tema: Keterbatasan Bukan Halangan.

Yohanna X Factor
Yohanna X-Factor
Perpustakaan Pusat UB sebagai jantung dari Universitas Brawijaya tentu sangat mendukung keputusan penerimaan penyandang disabilitas di kampus biru. Namun saya sebagai staff di Perpus UB mengakui bahwa kami belum mampu memberikan pelayanan dan fasilitas yang memadai bagi para mahasiswa difabel. Satu-satunya fasilitas di Perpus UB yang ramah terhadap mahasiswa difabel adalah tangga tak berundak yang selama ini dipakai sebagai jalan naik bagi kereta buku jika listrik padam. Tangga itu cocok bagi pengunjung yang memakai kursi roda. Namun sayang sudut kemiringannya terlalu curam sehingga agak menyulitkan ketika naik dan membahayakan saat turun.
Tangga untuk Difabel
Tangga untuk Difabel di Perpus UB

Kebetulan saya bekerja di bagian pelayanan, tepatnya di bagian sirkulasi yang melayani peminjaman dan pengembalian buku. Pernah suatu hari ada seorang mahasiswa yang hendak meminjam buku, seperti biasa saya pun meminta KTM terlebih dahulu. Namun yang terjadi, mahasiswa tersebut malah nampak kebingungan dan menyahut dengan suara yang tidak bisa saya mengerti. Barulah saya menyadari kalau saya sedang melayani seorang mahasiswa tuna rungu. Akhirnya saya pun melayaninya dengan bahasa isyarat yang bisa dia mengerti.
Lalu apakah yang harus dilakukan oleh Perpus UB untuk mendukung UB sebagai kampus inklusif? Jawabannya hanya satu yaitu menjadi perpustakaan inklusif. Untuk menjadi perpustakaan inklusif maka Perpus UB harus mulai membenahi diri baik itu secara fisik maupun dalam hal pelayanan.
Secara fisik Perpus UB harus menyediakan fasilitas-fasilitas bagi pengunjung difabel. Adapun fasilitas bagi pengunjung difabel antara lain:
1.      Tangga Tak Berundak bagi pengunjung tuna daksa, fasilitas ini akan membantu mereka naik ke lantai dua atau menjangkau ruangan-ruangan tertentu di perpustakaan yang mempunyai ketinggian berbeda.
2.      Koleksi buku Braille dan buku Audio. Buku Braille adalah buku-buku yang ditulis dengan huruf Braille, sedangkan buku Audio adalah rekaman teks buku atau bahan tertulis lainnya yang dibacakan oleh seorang atau sekelompok orang penyuara. Kedua jenis buku ini diperuntukkan bagi pengunjung tuna netra.
3.      Koleksi Audiovisual. Koleksi ini berupa film-film yang disertai dengan bahasa isyarat yang diperuntukkan bagi pengunjung tuna rungu dan tuna wicara.
4.      Toilet Difabel.
Semua koleksi untuk pengunjung difabel di atas nantinya akan ditempatkan di ruang khusus yang dinamakan Difabel Corner. Dengan adanya ruang Difabel Corner ini maka para mahasiswa/i difabel akan mempunyai tempat yang nyaman bagi mereka mencari bahan literasi dan belajar bersama.
Sedangkan dari segi layanan maka Perpus UB harus mampu memberikan pelayanan yang ramah dan bersahabat bagi pengunjung difabel. Setiap staf harus mempunyai kepedulian dan empati kepada para pengujung yang mengalami disabilitas. Selain itu Perpus UB bisa memberikan pelatihan tentang bahasa isyarat bagi para stafnya yang berada di bagian pelayanan atau merekrut staf khusus yang menguasai bahasa isyarat.
Sebenarnya tugas Perpus UB dalam melayani pengunjung difabel selama ini sudah diringankan oleh para volunteer dari PSLD UB. Para volunteer ini bertugas mendampingi dan membantu para mahasiswa difabel dalam menjalani hari-hari mereka selama menempuh pendidikan di UB.
Selain PSLD, di UB kini juga telah muncul sebuah organisasi yang didirikan oleh para mahasiswa difabel dan non difabel yang tertarik dan peduli pada isu-isu disabilitas yaitu Forum Mahasiswa Peduli Inklusi atau disingkat menjadi FORMAPI. Organisasi ini merupakan wadah bagi para mahasiswa difabel untuk mengembangkan diri. Hal ini patut kita dukung dan banggakan karena dengan berdirinya FORMAPI menunjukkan bahwa para mahasiswa difabel tersebut mempunyai kemauan untuk mandiri, tidak selamanya bergantung kepada orang lain.
Akhir kata, semoga penyebutan UB sebagai kampus inklusif tidak hanya sekedar lips service belaka namun harus diwujudkan melalu berbagai macam aksi dan tindakan yang membantu para mahasiswa difabel. Mari kita bantu saudara-saudara kita tersebut untuk bisa mengenyam pendidikan S1 seperti kita yang non difabel. Karena mereka juga putra dan putri Indonesia yang berhak atas kehidupan yang lebih baik dan mendapatkan kesamaan hak dan keadilan di tengah-tengah masyarakat.

Referensi dan sumber foto:
http://psld.ub.ac.id/?p=666
http://id.wikipedia.org/wiki/Buku_audio
http://id.wikipedia.org/wiki/Braille
http://ericha-wardhani.blogspot.com/2012/04/fasilitas-pendidikan-anak-tunarungu-di.html
https://andreanusabadi.wordpress.com/2013/11/04/setahun-menjadi-volunteer-di-pusat-studi-dan-layanan-disabilitas-universitas-brawijaya-psld-ub-malang/
http://prasetya.ub.ac.id/berita/Yohanna-Sang-Dewi-X-Factor-Indonesia-12553-id.html
http://edukasi.kompas.com/read/2014/03/05/1800422/Lathifah.Penyandang.Tunarungu.yang.Menjadi.Model.Cantik.dan.Peraih.Beasiswa


Published by Keluarga Biru

Keluarga Biru adalah blog milik Ihwan Hariyanto dan Ivonie Zahra. Mereka menulis tentang parenting, traveling dan kuliner yang mereka lakukan bersama dua buah hati mereka Aiman dan Aira.
Follow us Google+.

6 comments:

  1. itu yang diatas sopo wan? cantik beud euy

    #teralihkan

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya dia itu Siti Nur Lathifah, model tunarungu yang berprestasi.

      Delete
  2. Semoga perpustakaan UB bisa menjadi perpustakaan yang nyaman bagi penyandang disabilitas. Ternyata fasilitas yang dibutuhkan bagi pengunjung difabel, sepertinya cukup jarang dijumpai. Tentunya empati yang paling penting bagi pengunjung disabilitas, mereka juga ingin diperlakukan sama seperti orang biasa, dan pengunjung disabilitas harus diberi perhatian lebih. Mas, saya yang ketemu pas selesai acara festival saya suka baca. Keren mas blognya, saya juga suka warna biru :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin, semoga Perpus UB bisa membenahi diri guna memberikan pelayanan yang ramah pada semua pengguna dari semua kalangan.
      Oh Mas Aldi ya, nggak nyangka bisa ketemu di blog.

      Delete
  3. Cakep yaaa *losefocus hihihi.

    Yang X-Factor kayak pernah lihat, cuma lupa-lupa inget >.<

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya cantik tapi saying udah punya pacar Yan :P
      Yohanna masuk babak spektakuler tapi harus pulang di awal-awal kompetisi.

      Delete

Jika menurut Anda artikel ini berguna mohon dukungannya dengan memberikan donasi via PayPal untuk maintenance blog Keluarga Biru. Terimakasih ^_^

Google+ Followers

Followers

Total Pageviews

Contact

Powered by Blogger.