Keluarga Biru

Featured Post

Berumur Panjang Demi Keluarga Tercinta - My Healthiness My Precious Moment

Di keluarga besar saya, umur para pria mayoritas lebih pendek bila dibandingkan dengan umur para wanita. Sejak lahir saya tidak...

Laman

Wisata Kuliner Palembang di Malang

Keluarga Biru         33 comments



Wisata Kuliner Palembang di Malang


“Pa, nanti bentar lagi menepi ke kanan ya, kita makan Pempek Farhan dulu.”
“Di sebelah mana?”
“Itu lho sebelum jalan menurun.”

Saya pun segera menepikan motor ke sebelah kanan. Meski lalu lintas di Jalan Ranu Grati Malang malam itu cukup padat namun untunglah kami menepi dengan cepat. Maklum, jalan raya di Ranu Grati ini menjadi salah satu akses menuju Perumahan Sawojajar sehingga setiap hari selalu padat dengan kendaraan bermotor.
Untuk urusan wisata kuliner Mama Ivon memang selalu punya informasi terbaru baik itu yang didapatnya dari grup Malang Kuliner atau hasil rumpian dengan grup wasapnya.
Kami berdua lalu memasuki sebuah depot pempek yang bertuliskan nama Pempek Farhan @Rp.1750 di depannya. Mama Ivon memesan dua porsi seharga Rp.7000 berisi 4 pempek untuk kami berdua. Menurut Mama Ivon harga pempek di Pempek Farhan ini termasuk murah bila dibandingkan dengan penjual pempek yang selama ini pernah kami datangi.


Pempek Farhan


Kehadiran Pempek di Malang

Kehadiran Pempek memang sudah tidak asing lagi bagi warga Malang, yang paling populer dan paling banyak dijumpai standnya adalah Pempek Mang Johan. Pempek Mang Johan bisa ditemui di mall-mall atau di salah satu ruko yang ada di Jl. M. Panjaitan. Harga yang ditawarkan memang agak mahal namun sebanding dengan rasanya. Komposisi ikan dan sagunya pas, rasa ikannya terasa di lidah dan teksturnya empuk, gampang dikunyah dengan gigi saya yang sudah tidak lengkap ini he he he
Saya tidak ingat kapan mulai mengincip masakan khas Palembang ini. Saya beberapa kali membeli pempek di kantin Fakultas Kedokteran UB. Harganya satu porsi Rp.7000, itu udah kenyang banget dan rasanya lumayan.
Jika dilihat dari kondisi interiornya depot Pempek Farhan ini terbilang baru, desainnya sederhana namun bersih dan cerah. Yang unik adalah finishing pada dindingnya, tukang bangunannya pasti mempunyai cita rasa seni yang lumayan sebab dindingnya sengaja diplamir dengan motif melingkar yang membentuk tekstur yang unik. Secara keseluruhan interior di Pempek Farhan ini bikin betah pengunjungnya.


Pempek Farhan


Tak lama, dua porsi pempek pesanan kami pun datang. Kami tadi dari perjalanan pulang mengantarkan kue tart pesanan klien Dapur Ivonie. Karena bawa kue tart-nya agak susah kami terpaksa menitipkan Aim di rumah Ibu. Jadi ya, hitung-hitung agenda makan pempek dadakan ini mengenang masa pacaran kami dulu. Ini dia pempek pesanan kami, ada pempek lenjer dan kapal selam.


Pempek Farhan


Pada gigitan pertama saya mudah sekali mengunyahnya, ya kalau dibandingin dengan Pempek Mang Johan memang beda sih. Dari segi komposisi bahannya, sepertinya lebih banyak sagu dari pada ikannya. Lama-kelamaan saya merasakan pempeknya makin kenyal dan susah buat dikunyah he he he. Beneran deh saya nggak lebay, geraham saya sampai sedikit capek setelah mengunyah beberapa suapan pempek tersebut. Yaa, ada harga ada kualitas. 

Pempek Farhan

Meskipun begitu, pengunjung di Pempek Farhan ini lumayan ramai lho. Saat kami menikmati pempek, di depan depot ada beberapa pembeli yang antri. Trus kursi-kursi yang semula kosong juga sudah terisi dengan beberapa pengunjung.


Pempek Farhan


Asal Mula Pempek

Menurut sejarahnya, pempek telah ada di Palembang sejak masuknya perantau Cina ke Palembang, yaitu di sekitar abad ke-16, saat Sultan Mahmud Badaruddin II berkuasa di kesultanan Palembang-Darussalam. Nama empek-empek atau pempek diyakini berasal dari sebutan "apek", yaitu sebutan untuk lelaki tua keturunan Cina sedangkan "koh", yaitu sebutan untuk lelaki muda keturunan Cina.

Berdasarkan cerita rakyat, sekitar tahun 1617 seorang apek berusia 65 tahun yang tinggal di daerah Perakitan (tepian Sungai Musi) merasa prihatin menyaksikan tangkapan ikan yang berlimpah di Sungai Musi yang belum seluruhnya dimanfaatkan dengan baik, hanya sebatas digoreng dan dipindang. Ia kemudian mencoba alternatif pengolahan lain. Ia mencampur daging ikan giling dengan tepung tapioka, sehingga dihasilkan makanan baru. Makanan baru tersebut dijajakan oleh para apek dengan bersepeda keliling kota. Oleh karena penjualnya dipanggil dengan sebutan "pek … apek", maka makanan tersebut akhirnya dikenal sebagai empek-empek atau pempek.

Namun cerita rakyat ini patut ditelaah lebih lanjut karena singkong baru diperkenalkan bangsa Portugis ke Indonesia pada abad 16. Selain itu velocipede (sepeda) baru dikenal di Perancis dan Jerman pada abad 18. Selain itu Sultan Mahmud Badaruddin baru lahir tahun 1767. Juga singkong sebagai bahan baku sagu baru dikenal pada zaman penjajahan Portugis dan baru dibudidayakan secara komersial tahun 1810. Walaupun begitu sangat mungkin pempek merupakan adaptasi dari makanan Cina seperti baso ikan, kekian ataupun ngohyang.



Pembuatan pempek
(sumber foto: wikipedia.org)

Pada awalnya pempek dibuat dari ikan belida. Namun, dengan semakin langka dan mahalnya harga ikan belida, ikan tersebut diganti dengan ikan gabus yang harganya lebih murah, tetapi dengan rasa yang tetap gurih. Pada perkembangan selanjutnya, digunakan juga jenis ikan sungai lainnya, misalnya ikan putak, toman, dan bujuk. Dipakai juga jenis ikan laut seperti Tenggiri, Kakap Merah, parang-parang, ekor kuning, dan ikan sebelah. Juga sudah ada yang menggunakan ikan dencis , ikan lele serta ikan tuna putih.



Dapur Palembang

Lain waktu, saat kami mengantar buku sumbangan kebetulan yang menjadi koordinator sumbangan mempunyai depot pempek juga, namanya Dapur Palembang. Alamatnya di Jl Tumenggung Suryo no 21F (Belakang LP Lowokwaru). Dapur Palembang terletak di sebuah ruko yang agak menjorok ke dalam, mungkin karena itulah suasananya sepi malam itu. Untuk harga pempek yang ditawarkan memang lebih mahal namun sebanding dengan ukuran dan rasanya.
Menu di Dapur Palembang lebih lengkap, terutama variasi pempeknya. Berikut menu-menu yang saya baca di dindingnya: Pempek Panggang, Pistel, Telur, Lenjer, Adaan, Keriting, Kapal Selam, Tekwan, Lontong Sayur dan Ayam Goreng Madu.
Malam itu Mama Ivon membeli pempek kapal selam dan es kacang merah. Karena masih ada keperluan lain, Mama Ivon meminta dibungkus saja. Ini dia tampilan pempek kapal selam dan es kacang merah versi Dapur Palembang.


Pempek Kapal Selam

Dapur Palembang


Rasa ikannya terasa dan teksturnya tidak kenyal banget. Trus cukanya pedas mantab banget, bikin ketagihan. Es kacang merahnya juga enak, saya baru pertama kali merasakan es kacang merah namun langsung suka dengan rasanya. Mungkin lain kali kami akan makan di Dapur Palembang lagi.

Demikianlah review singkat kami mengenai rasa pempek yang dijual di beberapa depot pempek di Malang. Terimakasih kepada orang-orang Palembang yang telah merantau hingga ke Malang dan mengenalkan kepada kami salah satu kekayaan kuliner bangsa Indonesia.



sumber referensi:  www.wikipedia.org


Published by Keluarga Biru

Keluarga Biru adalah blog milik Ihwan Hariyanto dan Ivonie Zahra. Mereka menulis tentang parenting, traveling dan kuliner yang mereka lakukan bersama dua buah hati mereka Aiman dan Aira.
Follow us Google+.

33 comments:

  1. Tuh kan kapal selamnya pake mie, hehe aslinya di sini nggak pake mie kuning. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tapi aku suka Yan, biar ada temennya dan lebih kenyang :D
      Moga ada kesempatan mencicipi pempek langsung di Palembang sana, aamiin.

      Delete
    2. gak juga sih, ada bbrp yang serving pempek kapal selam pake mie kuning(sedikit) kalo banyak minya dan pempeknya dipotong kecil2 namanya rujak mie palembang
      Dedy@Dentist Chef

      Delete
    3. Iya bener. Pempek asli palembang gak pake mie. Kalo di bandung ada yang pake mie kuning atau soun

      Delete
  2. Waah ini nih makanan favoritku. Tapi sukanya justru klo bumbunya dikit :p

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tiap orang punya cara fave masing-masing menikmati pempek ya Mbak :D

      Delete
  3. Pempek ini makanan kesukaanku banget! Pokoknya kalo denger info ada pempek enak, rasanya pengen buru-buru disamperin aja :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Trus sekarang udah nemu yang lebih enak dari pempek om ganjen belum Dee? :P

      Delete
    2. Ada, Wan.. lebih deket dari rumah lagi tempatnya.. Pempek Bangka. Enak banget!

      Delete
  4. Aish jadi kangen mpek2, semalam baru aja milih foto2 perjalanan di palembang tapi mau nulisnya males banget hehehe
    Eh bang ihwan udah duluan cerita mpek2

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah enak neh Om Cumi udah ngerasain pempek langsung di tempat asalnya.
      Jangan males dong Om, para fansnya udah nungguin tuh pose santun jelang Ramadhannya he3

      Delete
  5. Hmmm... pastinya yummy, nih...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalo di Jerman mudah nggak Mbak nyari pempek?

      Delete
  6. aihhh jadi ngences, aku fanatik pempek kulit, mengingatkanku masa SMA soalnya wan di palembang, sarapan dan lunchnya pempek hahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pempek kulit...hmm apa mirip kayak kulit ayam crispy? :D
      Wah serunya, dulu ikut Papa dinas di Palembang ya Mbak?

      Delete
  7. harganya sesuai sama kualitasnya, aduh gambarnya bikin laper, hehe.. Keren mas reviewnya, sampai dijelaskan sejarah pempek juga :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ayo Di nyoba makan pempeknya, yang pertama aku saranin di Pempek Farhan trus baru yang lebih enak di Dapur Palembang atau Mang Johan.
      Iya dong biar makin sip ditambahi sejarahnya :P

      Delete
  8. Ugh, pempek dmn2 emg gk ada matinyaaa... Di cilegon ada pempek paling enak se cilegon, kapal selem paling aku sukaa

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kuliner daerah yang menasional Mbak he3 ribet bahasanya.
      Sama Mbak, aku juga suka sebab ada telornya :D

      Delete
  9. aku suka sekali pempeeeek, lucu juga tulisannya @1750, kupikir harganya

    ReplyDelete
  10. unik namanya pempek kapal selam

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pas pertama dengar juga kepo, ternyata bentuknya memang seperti kapal selam :D

      Delete
  11. nyaaammm pempeknyaaaaa menggodaaa.. yang bikin nagih ke pempek yang enak kalau saya tergantung kuahnya.. kl cocok di lidah, pasti balik, hehehehe..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau saya, pempek dan kuahnya Mbak. Kalo pempeknya nggak alot dan kuahnya pedes maknyus pasti saya balik :D

      Delete
  12. Ga pernah ada bosennya kalo makan pempek. Btw, aku lebih suka pempek dimakan tanpa digoreng. Cukup dikukus saja. Enak lebih empuk.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Berhubung saya sukanya yang ada krenyes-krenyesnya maka saya prefer yang digoreng Mbak he3

      Delete
  13. Pempek kayaknya sudah menjadi makanan orang Indonesia. Makanan Khas palembang yang mudah ditemukan diseluruh kota di Indonesia

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bener sekali Mbak, mungkin karena karakter dan rasanya yang khas banget makanya bisa menaklukkan hati mayoritas masyarakat Indonesia.

      Delete
  14. mmm...klo pempek farhan emang kurang kurang terasa ikan nya...dan lebih terasa sagunya..sehingga teksturnya agak keras..tp banyak orang yg beli trus di jual lagi...selain murah..tp rasanya udah banyak yg suka..sausnya apa lg...sdikit pedes gmana gtu...

    ReplyDelete
  15. Met pagi pak/bu.. Mau tanya putih telurnya di jual apa tdk? Klo di jual, sy mau beli.. Perhari sy membutuhkan 50/100 kg, bs gak?

    ReplyDelete
  16. Oya bu/pak.. Klo putih telurnya di jual, ini no.hp saya rubi 085257644639.matur Suwon

    ReplyDelete

Jika menurut Anda artikel ini berguna mohon dukungannya dengan memberikan donasi via PayPal untuk maintenance blog Keluarga Biru. Terimakasih ^_^

Google+ Followers

Followers

Total Pageviews

Contact

Powered by Blogger.