Keluarga Biru

Featured Post

Berumur Panjang Demi Keluarga Tercinta - My Healthiness My Precious Moment

Di keluarga besar saya, umur para pria mayoritas lebih pendek bila dibandingkan dengan umur para wanita. Sejak lahir saya tidak...

Laman

Hari Inspirasi: Kenangan Terindah Dalam Hidup saya

Keluarga Biru         14 comments

Kelas Inspirasi Malang 3


Hari ini adalah sebuah tantangan bagi saya, tantangan untuk mengalahkan rasa takut.

Rasa takut?

Iya benar, rasa takut. Takut jika saya tidak bisa memberikan yang terbaik untuk anak-anak MI Nurul Huda, Buring, Malang. Sekolah dimana saya menjadi relawan pengajar pada Kelas Inspirasi Malang 3.

Saya tidak memiliki latar belakang sebagai pengajar sama sekali, apalagi mengajar anak-anak yang tantangannya tentu jauh lebih besar. Namun keinginan untuk ambil bagian dalam Kelas Inspirasi Malang 3 mengalahkan rasa takut tersebut. Saya memang bukan siapa-siapa, hanyalah seorang pegawai perpustakaan yang juga tidak mempunyai latar belakang pendidikan pustakawan.
Namun saya ingin berbagi cerita tentang profesi yang sudah saya geluti selama 15 tahun ini kepada generasi penerus bangsa. Kehadiran perpustakaan sangatlah penting bagi dunia pendidikan ibarat jantung di dalam tubuh manusia, itulah sebabnya dibutuhkan calon tenaga-tenaga pustakawan yang berasal dari generasi yang sekarang. Agar nantinya perpustakaan di masa depan makin maju dan terdepan dalam memberikan informasi dan ilmu pengetahuan bagi masyarakat.


Kelas Inspirasi Malang 3


Bersyukur sekali saya karena dikelompokkan bersama teman-teman yang mempunyai semangat dan dedikasi yang tinggi untuk menjadi relawan di Kelas Inspirasi. Rombel 53, itu nama kelompok saya. Di antara 4 pengajar yang hadir hari ini, hanya saya yang asli Malang. Tiga pengajar lainnya berasal dari berbagai kota yang jauh dari Malang. Ada Mas Hengky, seorang apoteker murah senyum yang bekerja di perusahaan swasta di Lawang. Mbak Iffa, sang bidan energik dan Mbak Wenny, pegawai Pertamina penyayang anak, keduanya berasal dari Jakarta. Trus ada juga deretan fotografer dan videographer keren: Mas Gabby, Mas Edy dan Mas Bobz. And the last but not least, Mbak May dan Mbak Zurra, duo fasil yang telah bekerja keras membantu dan memfasilitasi kami. Kehadiran mereka semua menjadi pelecut semangat tersendiri bagi saya. Kalau mereka yang dari luar Malang saja begitu bersemangat untuk berbagi inspirasi, mengapa saya tidak?


Kelas Inspirasi Malang 3

Wajah-wajah polos dan lucu itu menatap kami dengan berbagai macam ekspresi, mungkin dalam benak mereka bertanya-tanya apa yang akan kami lalukan di sekolah tempat mereka menuntut ilmu. Saya menatap bangunan sekolah MI Nurul Huda yang tampak sederhana. Di depan sebuah kelas tampak gundukan pasir, sebagian bangunan memang sedang direnovasi. Saya tidak percaya di daerah yang masih termasuk wilayah Kotamadya Malang masih ada sekolah dasar dengan kondisi yang boleh dibilang jauh dari kesan maju. 

 



Demikian juga dengan lingkungan tempat MI Nurul Huda berada, layaknya sebuah desa terpencil dengan kondisi jalan yang belum diaspal dan sebagian besar rumah penduduknya sederhana dimana di belakang rumah setiap penduduknya memiliki ladang. Mayoritas penduduk Desa Buring adalah orang Madura dan memiliki mata pencaharian berladang. Yang lebih memprihatinkan, penduduk Desa Buring menganggap pendidikan bukanlah hal yang penting bagi anak-anaknya. 






Menurut penuturan dari Ibu Ayu Suhita Chandra, SPd, Kepala Sekolah MI Nurul Huda, rata-rata remaja Desa Buring akan dinikahkan atau bekerja di ladang setelah lulus dari bangku SMP. Jarang sekali yang melanjutkan ke bangku SMA. Hati saya pilu mendengarnya, rasanya tidak percaya jika di zaman sudah maju dan serba digital ini masih ada orang tua yang memiliki mindset yang sempit dan kuno seperti itu.






Setelah acara apel pagi dan pengenalan tentang Kelas Inspirasi kepada semua siswa, kami pun mulai melaksanakan tugas sesusai rundown yang sudah disusun oleh fasilitator dan ketua Rombel 53, Mas Gabriel. Di jadwal pertama saya kebagian jadwal mengajar di kelas 4. Setelah mengambil semua ‘alat tempur’ yang tadi saya taruh di ruang guru, saya pun lalu berjalan menuju ruangan kelas 4. 


Saya belum pernah survey langsung ke MI Nurul Huda, hanya melihat dari video yang dikirimkan Mas Gabby di grup wasap. Di H-1 saya menyempatkan diri untuk survey ke lokasi namun karena sempatnya setelah pulang kerja, sesampainya di sana hari sudah petang dan tidak memungkinkan untuk mendatangi sekolah karena di sana tidak ada penerangan sama sekali. Nah hari ini ketika melihat langsung kondisi sekolah dan anak-anak itu, rasa takut yang semula saya rasakan langsung sirna. Ada panggilan dari dalam hati yang begitu kuat untuk ingin segera masuk ke kelas dan memulai hari inspirasi. Itulah sebabnya kenapa langkah kaki saya begitu ringan dan hati ini begitu bersemangat ketika memasuki ruang kelas 4.


Setelah murid-murid selesai membaca doa, saya pun lalu memulai hari inspirasi dengan memperkenalkan diri. Agar lebih mudah bagi para pengajar mengenali murid-murid, para fasil memberikan tanda pengenal berupa ikat kepala dari kertas dengan bintang di tengahnya. Nah para murid dipersilakan menuliskan namanya di bintang tersebut.





Saya membuka komunikasi dengan bertanya kepada mereka siapa yang suka membaca buku. Beberapa murid mengacungkan tangan, wah saya senang melihatnya. Semula saya pesimis bakalan ada yang mengacung karena menurut keterangan Bu Ayu, sekolah mereka belum memiliki perpustakaan. Ada sedikit buku-buku bacaan yang ditaruh di ruang kelas 3.
Setelah mereka mulai terbuka dan mau diajak mengobrol tentang buku bacaan kesukaan mereka, saya pun lalu kemudian menerangkan tentang profesi dan tempat kerja saya. Mereka tampak antusias mendengarnya. Biar lebih menarik mereka, saya pun memutarkan video profil Perpustakaan Pusat Universitas Brawijaya. Anak-anak pun berebut ingin maju mendekati laptop. Namun ada seorang anak perempuan yang tetap diam di tempat duduknya.




“Lho Dik, ayo ke sini juga, nggak apa-apa,” ajak saya.
Anak itu tak merespon ajakan saya.
“Dia itu pikirannya ndak sama kayak kami Kak,” celetuk Rizky dengan logat Maduranya yang kental, dia dari tadi paling aktif di antara teman-temannya.
“Nggak sama gimana maksudnya?” tanya saya keheranan.
“Pokoknya kata Bu Ayu, si Ana itu pikirannya ndak sama kayak kami.”
Seketika saya teringat dengan penjelasan Mbak May di grup bahwa di MI Nurul Huda ada dua orang murid yang memiliki kebutuhan khusus yaitu di kelas 4 dan 6. Apakah anak itu yang dimaksud oleh Mbak May.

Saya kemudian berjalan mendekati anak perempuan berjilbab hitam itu. Saya baca nama di tanda pengenalnya. Karena namanya panjang saya pun lalu bertanya nama panggilannya.
“Nama panggilannya siapa Dik?”
Gadis itu menatap saya tanpa ekspresi, membuat saya jadi bingung sendiri.
“Ana,” jawabnya pelan. Agak lama saya menunggu jawaban darinya.
“Ayo Ana ikut maju ke depan, kita lihat video bareng.”
Ana hanya terdiam, setelah agak lama barulah dia berdiri dan ikut bergabung bersama teman-temannya. Inilah potret pendidikan di desa terpencil, seorang anak yang memiliki kebutuhan khusus terpaksa harus belajar di sekolah umum dikarenakan ketiadaan sekolah khusus bagi mereka. Ya Allah, pastilah sangat sulit bagi Ana untuk menyesuaikan diri dengan teman-teman dan menerima pelajaran seperti anak normal lainnya.






Setelah selesai menjelaskan tentang seluk-beluk profesi pustakawan dengan bahasa yang bisa mereka pahami, saya mengajak mereka melakukan simulasi menjadi pustakawan di Bagian Sirkulasi yaitu melayani peminjaman buku. Saya senang sekali ketika anak-anak tampak antusias ingin mencoba. Apalagi ketika melihat buku-buku anak yang saya bawa, mereka berebut ingin membacanya. Sebenarnya buku belajar mewarnai dan berhitung itu saya peruntukkan bagi anak-anak kelas 1 dan 2. Namun karena ada perubahan jadwal mendadak dikarena satu relawan pengajar mendadak tidak bisa datang maka jadwal saya ditukar dengan kelas 4.


Kelas Inspirasi Malang 3






Simulasi berjalan dengan lancar, anak-anak bisa memperagakan apa yang saya contohkan dengan baik. Pun ketika saya memberikan kuis seputar profesi saya, mereka juga berebut menjawab dan jawaban mereka benar semua. Saya sampai bingung memilih siapa yang paling cepat menjawab. Anak-anak MI Nurul Huda, meski bersekolah di sekolah yang tertinggal namun semangat belajar dan potensi mereka sebenarnya tidak kalah dengan anak-anak di perkotaan. Mereka hanya tidak beruntung saja hidup di desa yang terpencil dengan pola pikir orang tua yang menganggap pendidikan tidak terlalu penting bagi anak-anak mereka.


Kelas Inspirasi Malang 3


Itulah sekelumit cerita saya di Hari Inspirasi, 21 November 2015 yang lalu. Meskipun hanya sehari, namun kebersamaan singkat bersama anak-anak MI Nurul Huda akan menjadi salah satu kenangan terindah di dalam hidup saya. Semoga mereka pun juga merasakan hal yang sama. Saya tidak bisa membayangkan apakah saya bisa seceria dan bersemangat seperti mereka bila ditakdirkan hidup di desa yang terpencil seperti mereka. Doa saya, semoga anak-anak Desa Buring tetap bersemangat dalam menempuh pendidikan dan mengejar cita-cita mereka. Semoga masa depan mereka akan jauh lebih baik dari saya, aamiin.


Kelas Inspirasi Malang 3


NB: semua foto-foto yang dipergunakan adalah dokumentasi pribadi.

Published by Keluarga Biru

Keluarga Biru adalah blog milik Ihwan Hariyanto dan Ivonie Zahra. Mereka menulis tentang parenting, traveling dan kuliner yang mereka lakukan bersama dua buah hati mereka Aiman dan Aira.
Follow us Google+.

14 comments:

  1. Masih dengan pemikiran yang sama, ya. Anak anak gadis dinikahkan.titik. nggak pakai kuliah. Semoga dengan adanya kelas Inspirasi kayak gini bisa bener bener menginspirasi dan mengubah pemikiran yang ada. Biar Indonesia lebih maju.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Mbak, kasian anak-anak itu. Para orang tua juga perlu sebenarnya diberi pengarahan atau semacam kelas inspirasi buat ortu juga agar pikiran mereka terbuka akan pentingnya arti pendidikan.

      Delete
  2. Wah, pengalaman yang sangat menginspirasi. Semoga mereka tetap semangat mengejar impian mereka meski hidup didaerah terpencil :D
    Thanks udah share..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bener Mbak, bukan hanya mereka, saya pun juga terinspirasi dengan semangat dan keceriaan mereka. Aamiin, makasih doanya.

      Delete
  3. Kapan-kapan kayaknya aku harus coba KI di kota lain. Pingin ngerasain gimana rasanya hehe.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Gimana kalo tahun depan coba di Malang Yan, ntar bisa serombel sama aku. Menyebar inspirasi sekalian kita kopdar he3 modus.

      Delete
    2. Niatnya emang gitu wan, sekalian jalan-jalan, ayeeyy :D

      Delete
    3. KI Batam, Yan.. :)
      Kemaren 2 orang relawan KI Batam ada yang gabung KI Palembang looh...

      Delete
  4. Asyik banget bisa belajar jadi pustakawan juga. Mau dong diajarin, penasaran banget. :D

    ReplyDelete
  5. Setahu saya sekarang ini pemerintah malah mengarahkan anak2 berkebutuhan khusus untuk bisa bersekolah bersama anak2 umum, istilahnya inklusi, agar mereka juga mampu beradaptasi di luar sekolah nantinya dan teman2 lain juga belajar menerima perbedaan. Cuma, bbp sekolah inklusi biasanya disertai guru pendamping atau bisa juga memilih guru pendamping sendiri *cmiiw

    ReplyDelete
  6. Selalu seru mengikuti cerita para relawan KI :)
    Kalo dari pengalamanku, justru anak-anak di daerah hinterland yang punya semangat belajar dan rasa ingin tau berlebih. Kalo yang udah tinggal di kota agak-agak cuek gitu siih..

    ReplyDelete
  7. Moga semakin menginspirasi banyak orang dan bertambah banyak relawan-relawan muda dan bersemangat untuk pendidikan yang lebih baik :)

    ReplyDelete
  8. salut mas.... jarang yg mau melakukan hal spt itu

    ReplyDelete
  9. Masih bermimpi untuk jadi relawan KI mas (kapan yaaa), anak2 MI pasti seneng sekali ya dibawakan buku sama Mas Ihwan, lanjutkan perjuanganmu mas :)

    ReplyDelete

Jika menurut Anda artikel ini berguna mohon dukungannya dengan memberikan donasi via PayPal untuk maintenance blog Keluarga Biru. Terimakasih ^_^

Google+ Followers

Followers

Total Pageviews

Contact

Powered by Blogger.