Keluarga Biru

Featured Post

Cerita Liburan Akhir Tahun Keluarga Biru ke Yogyakarta

Laman

Pengalaman Terapi Anak di House of Fatima Child Center

Ivonie Zahra         10 comments
Terapi Anak di House of Fatima Child Center


Setiap anak itu terlahir sempurna. Begitulah yang ada dalam pemikiran saya saat anak pertama lahir. Seiring perkembangannya, ada banyak hal yang harus saya pelajari. Meskipun sejak lahir saya sudah banyak membaca buku mengenai ilmu pola asuh dan perkembangan anak. Tetapi saat dihadapkan pada kenyataan, rasanya semua jadi blank. Sehingga untuk membesarkan anak kedua ini, saya belajar dari perkembangan anak pertama.

Mas Aiman terlahir lewat operasi caesar dengan berat badan cukup, 2960 kg dan tinggi 48 cm. Saya sempat memberikan susu formula campur ASI di tiga bulan pertama, selanjutnya saya lepas dan full ASI hingga umur 2,5 thn. Saat memasuki usia makan, saya memberinya MP-ASI homemade. Semua sudah saya lakukan untuk yang terbaik agar tumbuh kembangnya sempurna. Hanya saja di usianya yang memasuki 1,5 thn sempat menjalani sircumsisi karena menderita fimosis. Saya sempat down waktu itu, tetapi tak berlangsung lama. Saya optimis setelah itu tumbuh kembangnya akan membaik kembali.

Bersyukur setelah melewati semua itu, Mas Aiman tumbuh dengan sehat dan jadi anak yang aktif. Hanya saja saya mengamati tingkat keaktifannya lain dari anak seumurannya. Sempat terpikir apakah anak saya termasuk hyperaktif? Tetapi kata kebanyakan teman saya, Mas Aiman belum sampai tahap itu. Masih ada anak lain yang tingkah polahnya melebihi Mas Aiman. Saking aktifnya terkadang saya merasa kewalahan. Bahkan tak ayal saya pernah sekali dua kali mencubit atau memukul pelan. Mau gimana lagi, perkataan saya rasanya tak pernah didengarnya atau dia yang belum memahami. Terkadang pula hal itu menjadi pemicu pertengkaran saya dengan suami.

Terapi Anak di House of Fatima Child Center


Di antara rasa putus asa saya menghadapi Mas Aiman, apalagi adiknya sudah lahir. Terbersit untuk membawanya ke psikolog. Hanya saja belum ada waktu yang tepat saat wacana itu muncul. Hingga suatu hari saya luangkan waktu untuk bicara dengan suami, bagaimana baiknya mengenai Mas Aiman. Oh iya, suami juga sudah banyak cari artikel mengenai parenting dan tumbuh kembang anak. Beli beragam buku yang semuanya tentang parenting tapi tetap saja mental kalau sudah berhadapan dengan polah Mas Aiman. Mungkin bagi orang awam, itu biasa dan dianggap anak nakal. Tetapi bagi kami bukan begitu, mesti ada sesuatu yang salah, entah pola asuh kami atau perkembangannya.
Usai melalui pertimbangan yang lama dan cari info sana-sini, diputuskan tanggal 1 Oktober saya suami sepakat untuk konsultasi ke psikolog di House of Fatima Child Center yang berada di Jl. Sumbing Kota Malang. Sebelumnya sudah bikin janji via telepon dan Whatsapp.

Bertemu dan Konsultasi dengan Psikolog


Sewaktu mengajak Mas Aiman ke psikolog, saya sampaikan kalau akan melihat sekolah. Karena sebenarnya Mas Aiman sudah sering minta sekolah, hanya saja saya pending dahulu sambil cari informasi sekolah yang pas. Pas di lingkungan juga pas di kantong ortunya hehe. Tentu saja Mas Aiman senang kalau mendengar kata sekolah. Sehingga saya tidak susah membujuknya untuk ikut. Benar saja, sampai sana ada sarana permainan perosotan dia sudah senang banget. Saya dan suami ke bagian administrasi terlebih dahulu. Selanjutnya di suruh menunggu, mbak petugasnya mungkin masih konfirmasi dengan psikolog di ruangan sebelahnya.
Tak berapa lama kemudian saya dan suami di panggil dan ditunjukkan ruangan psikologya. Di sana ada dua meja yang terpisah. Psikolog yang saya temui laki-laki yang bernama Pak Suyanto. Tadinya sekalian sama Mas Aiman, tetapi dia sibuk lari ke sana kemari sewaktu saya hendak berkonsultasi. Akhirnya Pak Suyanto menyarankan saya agar membiarkan dia bereksplorasi di luar. Saya dan suami menyampaikan apa saja yang menjadi keluhan mengenai Mas Aiman.
Hal yang saya sampaikan diantaranya ;
-          Mas Aiman sampai sekarang masih susah pegang pensil yang baik, tangannya berasa kaku menurut saya
-          Banyak bergerak dan susah diam walau hanya 5 menit saja.
-          Mudah bosan dengan satu permainan
-          Sering menganggu adiknya
-          Sulit berdiri mengantri agak lama
Usai menyampaikan hal itu, Pak Suyanto memaparkan beberapa mengenai keluhan yang saya sampaikan. Oh iya, yang sempat membuat suami merasa janggal, konon video edukasi yang ada di tablet atau handphone itu tidak baik. Padahal menurut suami ada anak yang cara belajarnya lebih cepat bisa melalui visual. Usai sesi sharing berakhir, Pak Suyanto memberikan kesimpulan kalau Mas Aiman mengalami ADD. Apa itu ADD? Attention Deficit Disorder. Sikap yang kurang perhatian  sehingga kesulitan mengendalikan aktifitasnya yang berlebihan. Untuk itu beliau menyarankan dua terapi bagi Mas Aiman yaitu Terapi Perilaku dan Terapi Okupasi.
Saya dan suami sempat berdiskusi terlebih dahulu sebelum mengambil keputusan terapi. Kembali ke depan meja administrasi untuk melihat pricelist terapinya. Sambil tetap memperhatikan Mas Aiman yang asyik main perosotan di luar dengan anak lainnya yang kebetulan lagi terapi. Akhirnya demi kebaikan bersama, saya dan suami sepakat untuk mengambil terapi tersebut. Untuk awalnya saya ambil yang paket empat kali pertemuan. Kenapa hanya empat kali? Untuk melihat perkembangan Mas Aiman, sejauh mana perubahannya setelah ikut terapi. Nantinya bila diperlukan lagi akan lanjut, idealnya menurut psikolog 15 x terapi dan nantinya dianalisa kembali perkembangannya.

Apa Itu Terapi Perilaku?


Sesuai dengan paket yang saya ambil, terapi Mas Aiman dilakukan dua kali dalam seminggu. Hari Rabu dan Sabtu, untuk Hari Rabu Terapi Perilaku dan Hari Sabtu Terapi Okupasinya. Tanggal 5 oktober menjadi hari pertama Mas Aiman Terapi Perilaku. Masih sama seperti sebelumnya, saya menyampaikan kalau mulai sekarang Mas Aiman akan sekolah bukan terapi.  Pastinya dia senang sekali dibilangin bakal sekolah hehe.Saya dan suami mengantarnya berdua saja, sedangkan baby Aira saya titipkan bulek suami. Mas Aiman bersemangat, dia membawa tas biru kesayangannya.

Terapi Anak di House of Fatima Child Center


Oh iya, sebelumnya apa itu Terapi Perilaku? Jenis terapi yang ditujukan untuk mengontrol perilaku anak baik yang diinginkan maupun tidak diinginkan dengan system reward dan punishment. Tujuan dari terapi ini mengajarkan anak mampu membedakan atau mendeskripsikan stimulus yang berbeda. Membuat kegiatan terapi menjadi aktifitas yang menyenangkan bagi anak.

Terapi Anak di House of Fatima Child Center


Saat awal saya dan suami diajak masuk ke ruangan terapi untuk menjelaskan beberapa hal terkait materi terapi. Oh ya, nama terapisnya Ibu Grace, Aiman pun langsung akrab dan nyaman dengannya. Setelah itu saya dan suami diminta menunggu di luar dan bisa melihat aktifitas terapi Mas Aiman dari layar CCTV. Terapinya berlangsung selama 20 menit, sementara yang 10 menit penjelasan dari terapisnya pada orang tua.
Terapi Anak di House of Fatima Child Center


Dari hasil observasi terapisnya di sesi pertama dan kedua sebagai berikut :
-          Mas Aim dapat kooperatif dalam permainan
Mas Aiman diminta duduk di sebuah kursi dan mejanya berbentuk segitiga sehingga bisa duduk dengan tenang dan tak banyak bergerak. Diberi permainan berupa puzzle dan mainan edukatif menjahit (memasukkan tali dari satu lubang ke lainya seperti orang menjahit)
-          Aturan : baik, saat diarahkan melakukan penawaran
Sewaktu mainan satu belum selesai dan Mas Aiman mulai bosan, diminta mainan lain yang lebih dia sukai.
-          Perhatian dan konsentrasinya mudah beralih
Saat terapi saat memberi mainan, satu belum selesai sudah meminta mainan yang lain.
-          Kontak mata dengan terapisnya baik
Saat terapisnya mengajak bicara atau memberi arahan, Mas Aiman menatap ke benda yang diperlihatkan dengan baik. Kontak matanya lumayan lama memandang.
-          Respon panggilan saat terapisnya menyapa : Apa
Memang demikian, kalau saya memanggilnya sewaktu di rumah Mas Aiman lebih banyak menjawabnya dengan singat. “ Apa...”  
-          Kontrol emosinya, patuh atau masih mau diarahkan
-          Kontak matanya jauh lebih lama ketimbang yang pertama.
-          Perhatian dan konsentrasi lebih lama, namun masih terburu-buru, fokus cukup baik dan mampu mengikuti permainan. Mulai dari awal hingga akhir namun masih naik-naik kursi.
-          Konsep mau diarahkan. Misal, “Bu Grace, Aim mau main...”
Sedangkan di sesi terapi yang kedua  Mas Aiman hanya bersama saya dan baby Aira sedangkan suami kerja dan tidak bisa mengantar.  Sesi berikutnya adalah Terapi Okupasi yang dilaksanakan hari Sabtu.

Apa Itu Terapi Okupasi?


Saya sendiri masih belum tahu Terapi Okupasi itu yang bagaimana. Kalau dari yang saya baca Terapi Okupasi adalah bagian dari rehabilitasi yang menitikberatkan pada aktifitas yang bertujuan, terstruktur dan terintegritas. Tujuan daripada Terapi Okupasi ada 3 hal diantaranya :
1.       Memory Training : melatih konsentrasi, atensi, daya ingat.
2.       Activity Daily Living : meningkatkan kemampuan bantu diri dan kemandirian, melatih sub skill yaitu kemampuan yag diperlukan untuk melakukan aktifitas tersebut.
3.       Pre Writing Skill : kemampua yang menunjang kemampuan/keterampilan menulis, mengikuti pola perkembangan motorik, melatih koordinasi gerak halus, praksis menggunakan aktifitas bermain yang menunjang peningkatan kemampuan menulis.
Dari observasi terapi ini yang disampaikan oleh terapisnya tentang Mas Aiman. Oh ya, nama terapis okupasi Mas Aiman adalah Ibu Rika. Menurut beliau motorik kasar Mas Aiman bagus.
-          Meliputi dia naik tangga bar, merangkak di terowongan dan loncat di trompolin.
-          Sementara itu perhatian dan konsentrasinya mudah beralih untuk aktifitas yang tidak diminati contohnya menjahit.
-          Untuk aktifitas yang disukai pasang puzzle mampu bertahan kurleb 20 menit.
-          Problem solving dengan puzzle lagi, saat mengalami kesulitan Aim bertanya.
-          Kemampuan mengikuti instruksinya cukup.
-          Kekuatan jari dengan pasang jepit perlu diarahkan.
-          Mencocokan sesuatu baik.
-          Mewarnai masih perlu diarahkan karena memang jarinya masih kaku.
-          Pre writing dot to dot garis lurus dan mendatar perlu diarahkan.

Dari situ saya pun belajar menerapkan materi yang diberikan di tempat terapinya. Saya dan suami berburu mainan dan kartu edukatif yang sama, meskipun gak semuanya sama persis. Intinya bisa jadi alat belajar Mas Aiman. Sayangnya saya belum bisa melanjutkan terapi Mas Aiman saat paketnya habis.

Terapi Anak di House of Fatima Child Center

Terapi Anak di House of Fatima Child Center

Terapi Anak di House of Fatima Child Center

Sejujurnya sih, ingin tetap lanjut hanya saja suami ingin alternative lain yaitu memasukkan Mas Aim sekolah yang tidak melulu belajar melainkan ada waktu bermainnya. Mas Aiman sendiri juga sudah sering minta sekolah. Nantinya sambil sekolah ingin saya lanjutkan terapinya. Secara hasil dari terapi itu lumayan membantu dan ada perubahan pada tingkah lakunya meskipun tidak signifikan. Itulah sharing saya tentang Terapi Perilaku dan Terapi Okupasi yang telah dijalani oleh Aiman di House of Fatima, Malang. Semoga tulisan ini bermanfaat bagi para orang tua yang anaknya mengalami hal serupa, aamiin. Jika ada yang mau sharing juga silakan menulis di komentar, terimakasih.


Published by Ivonie Zahra

Keluarga Biru adalah blog milik Ihwan Hariyanto dan Ivonie Zahra. Mereka menulis tentang parenting, traveling dan kuliner yang mereka lakukan bersama dua buah hati mereka Aiman dan Aira.
Follow us Google+.

10 comments:

  1. Bagus ya kak di kota besar kecil ada tempat psikologi anak seperti House of Fatima Child Center. Andai saja ada di kota kecil seperti di kota saya. Semoga Mas Aiman lekas menunjukkan interaksi yang menarik dan nggak bandel dengan orangtua. Hehe

    ReplyDelete
  2. wah bagus ya, sbg ortu oeka banget dg anak dan minat konsultasi , salut deh

    ReplyDelete
  3. Persis sama anakku yg cewek, ga bisa diam biar cuma 5 detik, pasti langsung kabur. Alhamdulillah sejak sekolah, dia udah bisa mulai fokus ke pelajaran.

    ReplyDelete
  4. Ikut seneng ada tempat terapi yg oke di malang :)

    ReplyDelete
  5. akujuga pingin bawa Najin ke psikolog. karena sifatnya terlalu kekanak kanak an, padahal sudah kelas 4 sd. katanya terlalu dimanja, tapi entahlah. dengan baca ini, jadi positif ke psikolog. trims

    ReplyDelete
  6. Aku baru tau istilah aDD ini. hohoho...
    Semoga perkembangan mas Aim waktu sekolah nanti bisa lebih baik yaaaa
    Semangatt Mas Aiman....

    ReplyDelete
  7. "mesti ada sesuatu yang salah, entah pola asuh kami atau perkembangannya." Lalu mencari jawabannya ke ahli. Pemikiran dan langkah yang bagus, Mba.

    Semoga Mas Aim cakep sehat terus ya..

    ReplyDelete
  8. Keren disana ada pusat terapi seperti itu, jadi orang tua bisa mencari solusi terkait tumbuh kembang anak. Kalo disini sepanjang yang aku tau belum pernah dengar sih, jadi kalo ada curiga ama tumbuh kembang anak konsulnya ke dokter anak

    ReplyDelete
  9. beberapa siswa kami kls 1 dan 2 juga ikut terapi di sini mas
    alhamdulillah ada hasilnya
    terutama dari yang sulit fokus untuk belajar menjadi lebih fokus dan lebih mudah diarahkan

    ReplyDelete
  10. wahh berarti ini bisa juga untuk anak autis ya..

    ReplyDelete

Jika menurut Anda artikel ini berguna mohon dukungannya dengan memberikan donasi via PayPal untuk maintenance blog Keluarga Biru. Terimakasih ^_^

Google+ Followers

Followers

Total Pageviews

IBX585B563EDC6FB

Contact

Powered by Blogger.