Keluarga Biru

Featured Post

Berumur Panjang Demi Keluarga Tercinta - My Healthiness My Precious Moment

Di keluarga besar saya, umur para pria mayoritas lebih pendek bila dibandingkan dengan umur para wanita. Sejak lahir saya tidak...

Laman

Suka Duka Tinggal di Kota Wisata

Keluarga Biru         14 comments

Suka Duka Tinggal di Kota Wisata
Jatim Park 1, Batu, Jawa Timur

Mungkin banyak orang yang mempunyai keinginan atau bahkan impian untuk tinggal di kota wisata. Kota wisata memang ibarat gula yang akan menarik semut-semut untuk menikmatinya. Dalam bayangan kita mungkin hidup di kota wisata ibarat hidup di surge dimana kita bisa menemukan dengan mudah objek wisata ataupun hiburan. Namun tahukah Anda bahwa dibalik pesonanya, kota wisata terkadang  tersimpan duka bagi warga lokalnya.


Sukanya tinggal di kota wisata

  • 1.       Be the First

Tinggal di kota wisata akan memberikan kesempatan yang besar bagi kita untuk menjadi yang pertama mengunjungi objek-objek wisata terbaru. Biasanya pada saat grand opening objek-objek wisata akan memberikan diskon bahkan free tiket masuk sebagai perkenalan.
  • 2.       Banyak Lapangan Pekerjaan

Adanya objek-objek wisata tentu membutuhkan banyak karyawan, lalu juga menciptakan lapangan pekerjaan yang lain mulai dari penjual makanan, penjual souvenir hingga tukang parkir. Di kota wisata asalkan kreatif maka apapun bisa jadi uang bahkan tambang emas.
  • 3.       Prestise

Ada rasa kebanggaan tersendiri jika tinggal di kota wisata dengan objek-objek wisata yang indah dan ramai dikunjungi wisatawan. Kota wisata akan menjadi kota favorit yang akan banyak didatangi wisatawan.

Dukanya tinggal di kota wisata

  • 1.       Biaya Hidup Tinggi

Sektor wisata termasuk objek pajak dengan nilai yang tinggi, hal ini tentu akan sangat berpengaruh pada harga-harga barang kebutuhan mulai dari yang primer hingga tersier. Itu semua akan bermuara pada tingginya biaya hidup.
  • 2.       Tak Sempat Menikmati Hidup

Bagi yang berasal dari kalangan berada, hidup di kota wisata tentu akan seperti hidup di surga dimana bisa dengan mudah menemukan tempat refreshing. Namun untuk kalangan yang tidak mampu, hidup di kota wisata tiada hari tanpa perjuangan hidup tanpa sempat menikmati surga yang mereka tempati.
Saat saya pergi ke Bali, saya begitu prihatin melihat para penjual kaus jogger bajakan atau kaus bali murahan yang rela berpanas-panasan di bawah terik sinar matahari demi menjajakan barang dagangannya. Mereka tak peduli meski kulit mereka menjadi hitam legam dan rasa penat akibat panas, yang terpenting buat mereka daganganya laku. Tak hanya orang dewasa, bahkan anak-anak usia sekolah ikut menjual kaus atau souvenir. Mengorbankan masa kecil mereka yang indah demi membantu kedua orang tua.

Suka Duka Tinggal di Kota Wisata
Bali tidak hanya tentang surga (AGUSTINUS WIBOWO)
  • 3.       Rawan Stress

Ada banyak hal yang bisa memicu stress ketika hidup di tempat wisata, biaya hidup yang tinggi, persaingan untuk menarik wisatawan, kemacetan di jalan raya. Kemacetan memang bisa terjadi dimana saja, namun di kota wisata kemacetan bisa terjadi setiap hari. Bahkan akan lebih gila lagi saat weekend atau musim liburan. Saya sendiri pernah merasakan bagaimana macetnya kota Batu saat musim liburan. Ruas jalan sebelah kiri yang seharusnya untuk motor, dijarah oleh mobil-mobil dari luar kota yang mengangkut para wisatawan yang ingin menghabiskan liburan di Batu.

Kemacetan di Kota Batu

  • 4.       Pengaruh Negatif dari Wisatawan

Kota wisata akan mengundang banyak wisatawan untuk datang, mereka tidak hanya membawa uang namun bisa juga membawa pengaruh/dampak negative bagi lingkungan dan warga lokal terutama anak-anak.
Hampir sebagian besar wisatawan kurang menyadari pentingnya menjaga kelestarian lingkungan yang mereka datangi. Lihatlah betapa banyak contoh dimana objek-objek wisata alam kini mulai banyak yang tercemari oleh sampah-sampah yang dibuang begitu saja.
Para wisatawan datang dari berbagai daerah dengan budaya dan kebiasaan yang mungkin akan sangat bertolak belakang dengan budaya atau norma warga lokal. Misalnya saja wisatawan dari luar negeri, bagi mereka adalah hal lumrah memakai pakaia minim atau mengumbar kemesraan di depan umum. Tapi bagi masyarakat Indonesia hal itu tentu sangat tabu. Hal ini tentu akan sangat berpengaruh sekali pada anak-anak dan remaja.

Itulah sharing pendapat dan pengamatan Papa Ihwan tentang suka duka tinggal di kota wisata. Boleh setuju boleh tidak. Namun kalau saya pribadi lebih memilih hidup di kota biasa saja dimana saya bisa hidup dengan normal. Barulah jika nanti butuh refreshing saya akan pergi ke kota wisata menikmati setiap objek yang ada di sana, mengganti status dari pekerja menjadi raja meski hanya sehari.




Sumber foto:
http://surabaya.panduanwisata.id/hiburan/menikmati-wahana-wahana-seru-di-jatim-park-1/
http://agustinuswibowo.com/boycottbali-siapa-membutuhkan-siapa/2/

http://radarmalang.co.id/48-ribu-wisatawan-serbu-batu-1643.htm

Published by Keluarga Biru

Keluarga Biru adalah blog milik Ihwan Hariyanto dan Ivonie Zahra. Mereka menulis tentang parenting, traveling dan kuliner yang mereka lakukan bersama dua buah hati mereka Aiman dan Aira.
Follow us Google+.

14 comments:

  1. Betul Mas Ihwan, masing-masing punya kelebihan dan kekurangan. Tinggal menyesuaikannya aja sesuai dengan kemampuan. Bagimanapun lebih enak hidup di tempat yang penuh dengan pepohonan hijau, sejuk, banyak jajanan dan jauh dari hiruk pikuk keramaian jalanan.... Siiip, terserah sampeyan Mas, setuju atau gak, hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah tempat tinggal saya jauh dari hiruk-pikuk keramaian jalan raya besar dan banyak yang jual makanan (menolong banget kalau istri lagi nggak masak) minusnya udah jarang ada pepohonan yang rindang. Sawah-sawahpun kini banyak yang dijadikan real estate mini. Hehehe setuju-setuju Mas :D

      Delete
  2. Duluuuu jaman masih sekolah, Batu adalah kota pertama yang paling pengen aku tinggali, Wan.. Enak, adem, nyaman, dan banyak tempat asik buat dikunjungi tiap weekend :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Malang ama Batu beda-beda tipis Dee dari segi suhu dan kenyamanan, Malang kalau weekend juga ikutan macet karena wisatawan yang mau ke Batu harus melewati atau ngaso dulu di Malang.

      Delete
  3. selalu ada suka dan ada duka, bagi sebagian orang tidak ada banyak pilihan
    kalau saya sih suka hidup di tempat wisata, kapan saja mau berlibur berangkat :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya bener Mas, orang-orang yang lahir dan besar di kota wisata tidak ada pilihan selain harus survive demi kelangsungan hidupnya. Btw Mas Anak Nelayan nama aslinya siapa dan tinggal di Banyuwangi ya?

      Delete
  4. Macetnya bikin ngak tahan kalo weekend, ampunnnnn

    ReplyDelete
  5. Macettttttt cettt cet, pernah di Singosari aja sampe 2 jam, belum didalam kota. Waktu kuliah dulu masih asyik, sepi dan nyaman.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya begitulah Mbak, bukan Singosari kalau nggak macet.
      Tapi kalau naik motor masih bisa nyalip-nyalip :D

      Delete
  6. Pernah ke Malang dan Batu. Malang macet ternyata ya, udah sama kayak kota-kota di Pulau Jawa bagian barat. Batu katanya kota berhawa dingin, pas ke sana biar malam-malam tak merasakan dingin sedikit pun. Mungkin sudah terlalu padat penduduknya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Malang sekarang juga macet karena pertambahan kendaraan tidak diimbangi dengan pelebaran dan penambahan jalan raya.
      Hari Sabtu yang lalu kami rekreasi ke Selecta dan hawa dingin Batu yang dulu saya rasakan kini sudah tak ada lagi.

      Delete
  7. Rawan stres juga jadi salah satu akibat negatif tinggai di ibukota hahaha. Jakarta kota wisata nggak ya :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Errr kota wisata juga sepertinya :D
      Tapi kalau di Jakarta stressnya kebanyakan bukan karena Jakarta kota wisata tapi karena kerasnya kehidupan di ibu kota.

      Delete

Jika menurut Anda artikel ini berguna mohon dukungannya dengan memberikan donasi via PayPal untuk maintenance blog Keluarga Biru. Terimakasih ^_^

Google+ Followers

Followers

Total Pageviews

Contact

Powered by Blogger.