Keluarga Biru

Featured Post

Berumur Panjang Demi Keluarga Tercinta - My Healthiness My Precious Moment

Di keluarga besar saya, umur para pria mayoritas lebih pendek bila dibandingkan dengan umur para wanita. Sejak lahir saya tidak...

Laman

Princess Esma: Kucing Kesayangan Keluarga Biru

Keluarga Biru         20 comments




Princess Esma


Pagi itu saya sedang menyapu halaman rumah ketika melihat seekor anak kucing berwarna coklat yang lusuh di pinggir jalan. Dengan langkahnya yang lemah dia berjalan mendekat. Dia mendongak kepada saya sambil mengeong-ngeong. Mungkin dia kelaparan. Ketika saya berjongkok, kucing itu makin mendekat dan semakin keras mengeong.
Hati saya tersentuh, tidak biasanya ada kucing liar yang berani mendekat pada orang asing. Apalagi kucing kecil, biasanya kucing akan berlari menjauh jika akan disentuh oleh orang yang tidak dikenalnya. 

Saya lalu masuk ke dalam rumah untuk mengambil lauk ayam di dapur. Beberapa kerat daging ayam saya berikan pada anak kucing coklat itu. Dia langsung menggigitnya dengan lahap. Oh kucing ini memang benar-benar kelaparan, batin saya.
Selesai makan, anak kucing itu masih saja mengeong. Bahkan kini dia berani menggosok-gosokkan badannya di kedua kaki saya. Dulu di rumah Ibu, saya dan Bulek pernah memelihara kucing, kucing-kucing peliharaan kami itu suka sekali bermanja-manja dengan menggosok-gosokkan badannya di kaki kami.


Princess Esma


Tak lama Mama Ivon keluar dan menanyakan siapa pemilik anak kucing tersebut. Setelah mengetahui jika anak kucing itu tidak punya tuan, Mama Ivon menyetujui usul saya untuk memeliharnya. Awalnya kami sempat ragu, bagaimana nanti jika kami mudik ke Blitar. Siapa yang akan merawatnya. Namun setelah kami pikir masak-masak, hal itu tidak menjadi masalah. Kucing itu nanti bias kami kasih stok makanan yang banyak dan meminta tolong pada Bulek untuk merawatnya, toh beliau juga pernah memelihara kucing.

Ibarat memiliki anggota baru di dalam keluarga, maka saya dan Mama Ivon memutuskan untuk memberinya nama. Berhubung kami lagi demen serial Abad Kejayaan yang nama-nama tokohnya bagus dan unik, maka kami mencari inspirasi dari sana. Saya punya ide nama Efsun atau Firuse. Efsun itu nama selir kesayangan Pangeran Mustafa, sedangkan Feruse nama selir kesayangan Baginda Raja Sulaiman. 
Tapi Mama Ivon tidak setuju, dia ingin memberinya nama Esma. Esma itu adalah nama salah satu pelayan Putri Hurem. Esma dikenal sebagai pengasuh yang penyayang kepada anak-anak Putri Hurem.
“Aku lebih suka nama Esma, lebih enak didengar saat manggilnya.”
Oalah ya sudahlah, masa iya gara-gara pemberian nama kucing saja kami sampai harus berdebat :P
Karena kondisinya yang lusuh dan bau, Mama Ivon memandikan Esma besok harinya. Dia juga memberinya sebuah kalung yang lucu di lehernya. Mama Ivon mengirimkan penampilan Esma yang sudah cantik lewat wasap kepada saya.


Princess Esma


Selain memberinya nama yang bagus, kami juga membelikan Esma makanan kucing di supermarket. Sengaja kami memberinya makanan kucing yang penuh gizi agar kondisi Esma lekas sehat dan bulunya bisa bagus seperti kucing-kucing angora. Hal ini sempat membuat salah satu kakak saya keheranan, sampai segitunya kami merawat Esma he he he. Maklum, dalam pandangan kakak saya kalau kucing kampung cukup kasih makan ikan pindang atau ikan asin saja. Kami sempat keliru membelikan makanan untuk kucing dewasa buat Esma. Ternyata makanan buat kucing pun dibedakan antara kucing dewasa dan anak kucing. Mungkin karena masih sakit atau belum terbiasa, Esma hanya sedikit sekali memakan makanan kucing yang kami berikan. Dia malah tampak lebih suka dikasih makan daging ikan. 

Aim sendiri nampak senang dengan kehadiran Esma, sesekali dia mengelusnya. Antara girang dan geli sih dia saat berhasil menyentuh bulu-bulu Esma. Namun ada kalanya Aim karena saking gemasnya atau apa, mengambil sandal dan kemudian menepukkannya ke kepala Esma.  *tepok jidat* Oalah Nak, jangan tho, kasihan ntar dia pusing.
Esma pun nampak betah tinggal di rumah Keluarga Biru, awalnya jika malam hari kami taruh di luar. Namun karena kasihan dan udara di luar dingin, kami kemudian menaruhnya di dalam rumah. Dia tidur di dalam kardus bekas yang saya kasih alas kain. Sesekali dia keluar dari kardus dan pindah tiduran di atas karpet. Yang nyeleneh, dia juga suka tiduran di atas stavolt komputer kami. Mungkin karena suhu di atas stavolt hangat sehingga dia suka sekali di sana.

Meski sudah dimandikan, saya mencium bau yang tidak sedap setiap kali menggendongnya. Selidik punya selidik ternyata bau tidak sedap itu berasal dari salah satu kakinya yang terluka. Saya lalu mengobatinya dengan obat merah, untung dia tidak sampai berontak. Selang dua hari, luka di kaki Esma tidak menunjukkan kesembuhan, malah baunya makin menyengat. Dan ketika saya memeriksanya lagi, ternyata moncongnya juga ikut luka. Oalah kasihan, mungkin itu penyebab dia agak ogah-ogahan makan.
Saya lalu berkonsultasi pada Mbak Rien yang juga memelihara kucing. Atas saran dokter hewan langganannya, kami lalu membersihkan luka Esma dengan alkohol. Luka di kaki Esma itu mengalami infeksi sehingga menimbulkan bau tidak sedap. Karena masih dalam masa penyembuhan, kami lalu memindahkan Esma ke bagian lorong rumah. Setelah kami obati itu, Esma masih sempat memakan makanan kucing yang saya berikan padanya. Saat tengah malam saya menengoknya lagi, Esma sudah tidur dengan pulasnya.

Pagi harinya ketika saya hendak ke kamar mandi, saya iseng menengok Esma. Alangkah terkejutnya saya ketika melihat pose tidur Esma yang tidak wajar. Dia tengkurap dengan keempat kakinya yang melebar ke empat penjuru. Saya melihat perutnya tampak kempis, sudah tidak ada lagi tanda-tanda kehidupan di tubuh Esma.
“Ma, kayanya Esma meninggal deh.”
“Hah masa sih? Bukannya tadi malam dia masih mau makan?”
“Iya, Mama lihat sendiri aja.”

Kami berdua sedih sekali dengan kepergian Esma yang mendadak pagi itu. Sebagai bentuk kasih sayang yang terakhir untuknya, saya menguburkan Esma tak jauh dari makam mendiang Bapak saya. Kami tak menyangka jika Esma harus pergi secepat itu, padahal kami sudah merasa senang dan nyaman dengan kehadirannya di tengah-tengah keluarga kami. Bahkan Bulek pun ikut memberinya susu formula agar dia tetap bisa minum susu meski sudah tak bersama dengan induknya. 

Princess Esma
Hari ini genap sepuluh hari sudah kau pergi meninggalkan kami. 
Meski kenangan kebersamaan kita hanya sebentar saja namun namamu sudah mempunyai tempat tersendiri di hati kami.
Maafkan jika kami kurang maksimal dalam merawatmu.
Princess Esma, semoga engkau bahagia di alam baka sana, aamiin.



Published by Keluarga Biru

Keluarga Biru adalah blog milik Ihwan Hariyanto dan Ivonie Zahra. Mereka menulis tentang parenting, traveling dan kuliner yang mereka lakukan bersama dua buah hati mereka Aiman dan Aira.
Follow us Google+.

20 comments:

  1. Subhanallah... Kucingnya numpang meninggal ya Mas,, anak saya juga kalo gemes sama kucing, maen kepuk bae, he hehe... Nggak beda jauh ternyata ya.

    Tapi seenggaknya sebelum mati, si Esma merasa senang ya, mudah-mudahan berpahala ya Mas..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Mas, semoga selama kami rawat beberapa hari itu Esma merasa bahagia, aamiin.
      Namanya juga anak kecil, belum ngerti :D

      Delete
  2. Maafkan bagi pecinta kucing, sampai sekarang aku masih sulit suka sama hewan yang disayangi Rasulullah ini >.< cuma ada kejadian pas banjir gitu kami nampung anak kucing 3. Eh mati satu persatu >.<

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aku dulu juga geli Yan sama kucing, apalagi kalau gendong pas perutnya hiiiii
      Tapi pas Bulekku melihara kucing lambat laun aku jadi suka juga.
      Wah kasihan ya, semoga mereka bahagia di sana, ketemu Esma :D

      Delete
  3. ini saya hampir aja kepikiran princess esma ini apanya princess elsa di frozen.. eh ternyata si kucing cantik yaa.. hihihihihi...semoga tenang disisiNya yaa...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Elsa itu yang adiknya ya? maaf ga hafal :D
      Aaamiin, makasih doanya Mbak.

      Delete
  4. Wah telaten miara kuciing, aku udh gk bs skrg, krn kerja terus sehari2, dulu wkt kecil aku suka miara kucing padahal... Sehat2 ya prinvess esma :)

    ReplyDelete
  5. Huaaaa...ternyata kucing. Semoga tenang di sisi-Nya :(

    ReplyDelete
  6. Kehadirannya sekejap saja tapi meninggalkan kesan mendalam. Aku selalu salut sama org yang memelihara kucing jalanan. Karena jujur aku takut

    ReplyDelete
    Replies
    1. Takut kenapa Mbak? Takut dicakar atau digigit ya?

      Delete
  7. Replies
    1. Terimakasih Mbak udah bantu tanyain ke dokter hewan langganannya.
      Mungkin sekarang Esma lagi mainan sama kucing Mbak di sana.

      Delete
  8. Sekarang Praktis ya.. ad makanan kucing. kalau dulu harus beli ikan di pasar. Cute Princess Esma

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya makanan kucing bikin acara kasih makan kucing lebih praktis dan bersih.
      Makasih Budhe Zulfa *wakilin Esma*

      Delete
  9. Kucingnya cantik. Semoga tenang di sana Esma.

    Saya juga pernah punya kucing kampung yang sekarang sidha hilang. Mungkin sudah mati. Jadi kangen :(

    Salam kenal dari saya
    www.kotakwarna.com

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin, makasih doanya Mbak.
      Dulu kucing kampung saya yang ekornya mirip kucing anggora juga hilang, kata tetangga yang melihat sih dibawa orang :-(
      Salam kenal balik, makasih sudah mampir Mbak :-)

      Delete
  10. kucingnya lucu, sayangnya udah meninggal -___-

    ReplyDelete

Jika menurut Anda artikel ini berguna mohon dukungannya dengan memberikan donasi via PayPal untuk maintenance blog Keluarga Biru. Terimakasih ^_^

Google+ Followers

Followers

Total Pageviews

Contact

Powered by Blogger.