Keluarga Biru

Featured Post

Berumur Panjang Demi Keluarga Tercinta - My Healthiness My Precious Moment

Di keluarga besar saya, umur para pria mayoritas lebih pendek bila dibandingkan dengan umur para wanita. Sejak lahir saya tidak...

Laman

Masjid Tiban Malang: Keindahan yang Diselimuti Misteri

Keluarga Biru         15 comments



Dalam dongeng asal mula Candi Prambanan, Pangeran Bandung Bondowoso diperintahkan oleh Putri Roro Jonggrang untuk membangun seribu candi dalam waktu semalam saja. Agar berhasil melaksanakan tantangan tersebut, Pangeran Bandung Bondowoso meminta bala bantuan pasukan jin. Nah di Malang juga ada objek wisata yang konon juga dibangun dalam semalam oleh jin yaitu Masjid Tiban Malang.

Mengapa di sebut Masjid Tiban




Dalam bahasa Jawa, Tiban artinya jatuh. Disebut Masjid Tiban karena penduduk di sekitar masjid tersebut tidak pernah melihat proses pembangunannya. Tahu-tahu Masjid Tiban ‘muncul’ begitu saja di antara pemukiman penduduk yang padat seperti jatuh dari langit. Isu yang beredar Masjid Tiban dibangun oleh jin dalam semalam karena tidak pernah terlihat ada aktivitas peralatan berat seperti crane atau molen pengaduk semen yang besar. Padahal Masjid Tiban ini memiliki 10 lantai, benar-benar ajaib dan tidak masuk akal.
Masjid dengan desain arsitektur yang unik ini sebenarnya merupakan sebuah kompleks pondok pesantren yaitu Ponpes Salafiyah Bihaaru Bahri ‘Asali Fadlaailir Rahmah yang berlokasi di Jalan KH. Wahid Hasyim Gang Anggur Nomor 10, RT 07/RW 06 Desa Sananrejo, Turen, Kabupaten Malang, sekitar 40 kilometer dari Kota Malang.



Nah, saat liburan Idul Fitri yang lalu saya bersama keluarga besar menyempatkan diri untuk mengunjungi Masjid Tiban sebelum silaturahmi ke kerabat yang ada di Lumajang. Untung kami sampai di lokasi pukul setengah delapan pagi sehingga suasananya masih sepi. Untuk menuju Masjid Tiban, mobil yang kami tumpangi harus melewati sebuah gang kecil yang dipadati dengan rumah penduduk. Lebar jalannya hanya cukup dilalui oleh satu mobil saja, itulah sebabnya kenapa dijadikan jalan satu arah. Di kanan-kiri jalan banyak sekali penjual peralatan ibadah seperti mukena, sarung, sajadah, tasbih, minyak wangi, buku Yaa Siin dan lain-lain. Saya bisa membayangkan betapa sangat ramai dan padatnya jalan ini jika siang nanti.

Pesona Masjid Tiban yang Indah dan Unik

 

Saya langsung dibuat takjub dan terheran-heran manakala mobil kami sampai di depan Masjid Tiban. Sama sekali tak menyangka didalam gang yang sempit itu ternyata ada masjid yang berdiri dengan indah dan megahnya. Tampak oleh mata saya pintu masuk ke dalam Masjid Tiban yang berupa menara yang indah, menjulang tinggi dengan dominasi warna biru dan putih.
Kekaguman saya tidak berhenti sampai di situ. Ketika mobil kami berjalan menuju tempat parkir, makin terlihat bagaimana wajah asli dari Majid Tiban yang berhasil ‘menipu’ saya. Awalnya saya mengira masjid ini berukuran kecil sebab pintu masuknya saja hanya cukup dilewati satu mobil. Tapi setelah melihat bagian dalam maka Anda akan melihat sebuah kompleks pesantren yang besar. Bangunan di bagian dalam lebih besar dan megah serta memiliki area parkir yang luas.



Untuk masuk ke dalam masjid kita harus melapor dulu ke bagian informasi. Di sana kita harus menuliskan data diri yang lengkap, jika datang berombongan maka ditulis juga jumlah anggotanya. Hal ini sangat penting karena area Masjid Tiban memiliki banyak sekali macam ruangan sehingga jika tidak berhati-hati bisa ada yang tersesat dan tertinggal di dalam.


Bismillahirohmaniirohim, kami pun mulai memasuki Masjid Tiban. Beruntung, driver kami sudah beberapa kali ke sini sehingga dia menjadi guide dadakan untuk mengeksplorasi Masjid Tiban. Dari pintu masuk, kami melalui sebuah lorong yang menanjak menuju lantai satu. Meski siang hari tapi pencahayaan di lorong ini sangat kurang sehingga harus dibantu dengan lampu.


Di dalam Masjid Tiban tidak ada lift, untuk menuju ke setiap lantainya kita harus naik melalui tangga. Jadi siapkan stamina ya jika ingin mengeksplorasi hingga ke lantai sepuluh. Ukuran tangganya tidak begitu luas sehingga jika sedang ramai maka harus sabar mengantri. Tinggi tiap lantai di Masjid Tiban ini terbilang pendek untuk ukuran masjid yang terlihat menjulang di luar, yakni hanya sekitar 200 meter.


Entah kenapa selama mengeksplorasi tiap ruangan saya merasakan aura yang berbeda di Masjid Tiban ini. Seperti ada kesan misterius yang menggetarkan hati. Itulah sebabnya saya selalu menggenggam erat tangan Aiman, putra kami selama di dalam masjid. Benar saja, ketika saya atau Mama Ivon sedang memotret, Aim tahu-tahu sudah berlari ke ruangan atau lantai yang lain. Untung saja kami segera menyadari dan menyusulnya.

Paduan Arsitektur Jawa dan Timur Tengah

Di Masjid Tiban memang banyak sekali spot-spot menarik yang bagus untuk dipotret atau sebagai latar belakang foto. Kalau menurut saya, Masjid Tiban memadukan gaya arsitektur Jawa dan Timur Tengah. Unsur Jawa terlihat dari ukiran-ukiran pada dinding dan ornament lainnya, sedangkan unsur Timur Tengah diwakili kaligrafi dan bentuk semua menaranya yang mengingatkan saya pada masjid atau istana di cerita negeri seribu satu mimpi.








Di dalam masjid juga terdapat area terbuka berupa taman dan kolam. Selain memberikan tambahan penerangan, area terbuka ini juga didesain dengan indah. Ada satu kolam yang unik dimana banyak sekali uang receh yang bertaburan di dasarnya. Dugaan saya koin itu memang sengaja dilemparkan oleh para pengunjung, entah apa maksudnya saya tidak tahu.




Tak terasa satu jam sudah kami berada di Majid Tiban. Karena masih harus melanjutkan perjalanan ke Lumajang, kami tidak mengeksplorasi hingga ke lantai sepuluh. Terlepas dari benar tidaknya mitos jika Masjid Tiban dibangun oleh jin dalam waktu semalam, pengalaman wisata religi ini begitu berkesan di hati saya karena akhirnya bisa menyaksikan sendiri kemegahan dan keindahan Masjid Tiban yang sudah kondang itu.

Tak lupa saya melapor ke Bagian Informasi jika rombongan saya sudah keluar dari masjid. Oh iya di Bagian Informasi ini, kita bisa membeli kaset DVD yang berisi tentang sejarah Masjid Tiban dan air gallon kecil yang sudah didoakan secara khusus. Kita juga bisa membeli oleh-oleh khas Masjid Tiban yang dijual di stand kecil di depan Bagian Informasi. Ada mug, kaus, bantal yang bergambarkan Masjid Tiban. Ada juga makanan kecil produksi penduduk setempat. Saat kami kembali ke area parkir, di sana sudah dipenuhi dengan kendaraan. Jika dilihat dari platnya tidak hanya dari Malang, bahkan ada yang dari luar kota Malang.




Nah bagaimana, Anda pasti tertarik juga kan ingin menyaksikan dengan mata kepala sendiri keindahan dan kemegahan Masjid Tiban Malang yang misterius ini. Masjid Tiban ini saya masukkan dalam tulisan Top 10 Places You Must Visit in Malang Before You Die. Alhamdulillah tulisan saya tersebut menjadi finalis dalam Indonesia Flight E-Poster Competition. 



Melalui tulisan ini saya memohon kebaikan hati kawan-kawan semua untuk vote poster tulisan saya yang berada di nomer urutan 3. Jangan lupa juga follow instagram Indonesia Flight yak karena banyak penawaran menarik juga di sana. Sebelum dan sesudahnya saya mengucapkan terimakasih. Untuk vote klik saja e-poster dibawah ini atau klik di sini.



Published by Keluarga Biru

Keluarga Biru adalah blog milik Ihwan Hariyanto dan Ivonie Zahra. Mereka menulis tentang parenting, traveling dan kuliner yang mereka lakukan bersama dua buah hati mereka Aiman dan Aira.
Follow us Google+.

15 comments:

  1. Tambah cakep masjid tiban INI, biasanya ibu2 pengajian satang kemarin. Semoga memang ya... Aamiin

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya ibu-ibu emang paling senang wisata religi. Aamiin, makasih doanya Mbak.

      Delete
  2. Tidaklah benar klo masjid ini ujug ujug ada secara misterius. Masjid ini mulai dibangun tahun 1992 oleh Romo Kyai Ahmad dan sempat terhenti kmudian dilanjutkan lagi hingga sekarang.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehe saya juga dapat info dari temen yang kebetulan orang Turen, Masjid Tiban ini dibangun sejak dia masih SMA hingga dia lulus kuliah. Saya lupa nggak nulis hal itu di atas. Makasih infonya Mas Alid.

      Delete
  3. Wah 10 lantai? Jadi penasaran..beneran harus full stamina nih..ini jadi objek wisata religi yang oke

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Mbak, bahkan kabarnya mauau ditambah lagi. Kalo ke Malang jangan lupa ke sini.

      Delete
  4. Beneran 10 lantai? dipakai buat apa aja?
    eh "legendanya" hampir sama kyk Kubah Mas di Depok ya? tiba2 ada gtu aja, tapi versi modernya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aku kebetulan hanya sampai lantai 3. Kata temenku di lantai 10 ada pasarnya.

      Delete
  5. wow, bagus banget mesjidnya ... 10 lantai pake tangga lumayan juga ya naik turunya. apalagi kalo tempat wudhunya ada di lantai paling bawah

    ReplyDelete
  6. Cakep banget masjidnya
    Wah kayaknya full agenda ini masjid ya dan tiap lantai punya fungsi yang berbeda
    Itu terbuka untuk umumkah pengunjungnya?

    ReplyDelete
  7. Yang gambar di akuarium gak ada kah? :D

    ReplyDelete
  8. keren banget masjidnya, 10 laniat subhanaallah
    seperti bagunan di bangkok campur tiongkok

    ReplyDelete
  9. Orang2 gresik kalo bikin tour ke malang, maka mesjid ini jadi salah satu destinasi nya

    ReplyDelete

Jika menurut Anda artikel ini berguna mohon dukungannya dengan memberikan donasi via PayPal untuk maintenance blog Keluarga Biru. Terimakasih ^_^

Google+ Followers

Followers

Total Pageviews

Contact

Powered by Blogger.