Wednesday, February 12, 2020

Jatuh Bangun Belajar Mengemudi Mobil Part 1


belajar mengemudi mobil


Assalamualaikum Gengs Biru, keberadaan mobil saat ini bukan lagi kebutuhan tersier atau sekunder. Untuk sebagian orang mobil sudah menjadi kebutuhan primer yang mempermudah transportasi dan mobilitas mereka. Maka tidak heran jika sekarang jumlah orang yang memiliki mobil masih terus bertambah.

Kalau bagi Keluarga Biru, keberadaan mobil kami butuhkan ketika mudik atau pulang kampung ke rumah Ibunya Mama Ivon di Blitar. Maklum saja, jarak Malang-Blitar cukup jauh, sekitar 1,5 sampai dengan 2 jam perjalanan. Sejak menikah hingga punya dua anak, kami paling sering mudik dengan mengendarai sepeda motor.

Susahnya Mudik Naik Motor




Mudik Malang-Blitar PP naik motor berempat memberikan pengalaman baik suka maupun duka. Sukanya kami bisa berhenti kapan saja dan dimana saja, biaya lebih hemat dan jarak tempuh lebih cepat jika lalu lintas padat. Dukanya harus extra hati-hati karena motor membawa beban 4 orang, apalagi kalau anak-anak tidur itu jadi semakin susah. Belum lagi kalau kepanasan dan kehujanan. Yang paling berat sih kehujanan ya, kasian anak-anak meskipun sudah pakai jas hujan kadang pakaian tetap basah dan kedinginan.




Belum lagi resiko keselamatan mengendarai motor boncengan empat, harus selalu sigap dan menjaga keseimbangan motor. Paling sebal kalau berhadapan dengan bus dan truk yang memakan jalan bahkan ada yang ugal-ugalan.
Itulah sebabnya kenapa kami memiliki impian punya mobil agar perjalanan mudik ke Blitar lebih aman dan nyaman. Impian itu kami pupuk dengan kesabaran karena kami sadar kemampuan ekonomi kami. Setiap kali pulang menempuh perjalanan mudik Malang Blitar saya selalu berdoa agar diberikan rejeki dan kemudahan membeli mobil.



Ada satu moment yang membuat saya terlecut ingin segera memiliki mobil yaitu ketika kami makan malam di sebuah warung makan dalam perjalanan pulang dari Blitar. Kami makan bareng sama dua keluarga yang membawa mobil. Melihat mereka nyaman banget setelah makan malam naik mobil melanjutkan perjalanan. Sementara kami naik motor menembus udara dingin menuju Malang.

Mengapa Memilih Daihatsu Taruna


Alhamdulillah di bulan Oktober 2019, kami akhirnya membeli sebuah mobil Daihatsu Taruna bekas tahun 2002. Mobil ini kami beli dari seorang pria yang tinggal di Kabupaten Malang. Untuk pemilihan jenis mobil, kami mencari mobil yang cocok untuk menempuh perjalanan jauh dan medan yang sulit. Sesuai dengan aktivitas kami yaitu mudik setiap bulan ke Blitar dan piknik tipis-tipis ke luar kota.

jual mobil taruna 2020


Lalu alasan kedua karena kapasitasnya yang lumayan banyak, bisa muat 7 orang. Kebetulan kami punya keluarga besar, kami pengin juga ajak mereka jika kami jalan-jalan atau mudik ke Blitar. Alasan ketiga, mobil Taruna yang kami incar ini warnanya BIRU.


jual mobil taruna 2020


Sebenarnya sih saya masih berencana beli mobil itu kalau anak-anak sudah masuk SD tapi Mama Ivon punya pertimbangan lain. Dia sudah tidak sanggup kalau masih harus naik motor 2 jam lamanya setiap kali mudik. Berbagi tempat duduk dengan dua anak yang semakin bertambah besar itu emang perjuangan banget. Trus juga mumpung kami masih muda, masih bisa bekerja keras untuk mencari uang.

Belajar Mengemudi Mobil di Natuna


Setelah membeli mobil, saya lalu segera mendaftarkan diri ke tempat kursus mobil. Sebenarnya sih yang bener itu, belajar mengemudi mobil dulu baru beli. Tapi berhubung saat itu takut mobilnya keburu dibeli ama pembeli lain, jadinya kami putusin untuk segera eksekusi pembeliannya.
Saya belajar mengemudi mobil di NATUNA, sebuah jasa kursus mengemudi yang cukup terkenal di Malang. Adapun paket kursus yang saya ikuti adalah Paket 10 kali pertemuan dengan tariff 650 ribu. Durasi latihan 45 menit di setiap pertemuan dan bebas memilih jam dan hari yang sesuai dengan waktu luang kita. Sayangnya peserta kursus harus belajar menggunakan mobil milik Natuna. Padahal saya penginnya belajar mengemudi menggunakan mobil sendiri. Tapi Natuna tentu punya pertimbangan sendiri, salah satunya adalah mobil kursus sudah disetting untuk belajar mengemudi sehingga faktor keamanannya lebih terjamin.
Instruktur yang melatih saya bernam Pak Irul, beliau sudah puluhan tahun mengajar di Natuna. Adapun mobil yang kami pergunakan untuk latihan mengemudi adalah Daihatsu Terios. Saya memilih Terios karena dari segi karakteristik mirip dengan Taruna. Maklum saja, Terios merupakan ‘anak’ dengan versi yang jauh lebih baik dari Taruna.

jual beli mobil taruna


Di pertemuan pertama, Pak Irul mengajarkan pada saya tentang teori dalam mengemudi mobil dan rambu-rambu lalu lintas yang harus diperhatikan sebagai pengemudi mobil. Di pertemuan kedua barulah saya diberikan kesempatan untuk berlatih langsung. Adapun tempat latihan berganti-ganti, paling sering sih di Simpang Balapan. Area tersebut memang dari dulu dijadikan tempat latihan mengemudi mobil karena medannya mudah dan lalu lintasnya sepi.
Entah karena rasa grogi yang terlalu besar atau kurang fokus, selama 11 kali pertemuan (saya dapat bonus 1 kali pertemuan) itu saya kurang bisa menyerap ilmu yang diberikan Pak Irul. Durasi latihan 45 menit itu ternyata singkat banget, baru satu kali mempraktekkan ilmu yang didapat, eh udah dua puluh menit dong. Trus ketika praktek yang kedua kalinya disambung langsung balik ke kantor Natuna.
Selama latihan, Pak Irul seringkali memberikan masukan agar saya RILEKS. Nikmati proses belajar mengemudi ini, jangan tegang agar cepat bisa, begitu ucapnya berulang kali. Namun itu nggak mempan buat saya. Pernah juga Pak Irul menceritakan salah satu muridnya seorang ibu-ibu yang cepat menerima ilmu yang diajarkan sehingga di pertemuan ketiga sudah berani mengemudi mobil sendiri. Bukannya termotivasi, eh saya malah agak down dengernya wekekeke. Berasa bego banget jadi seorang pria, kalah sama ibuk-ibuk.
Sudah 11 kali pertemuan namun keberanian dan kemampuan saya mengemudi mobil boleh dibilang masih NOL. Bahkan pernah saya belajar maju mundur dengan mobil milik sendiri di garasi tempat saya menitipkan mobil, itu aja groginya minta ampun. Bahkan saya sampai keliru injak gas padahal sebenarnya mau nge-rem. Untung saya segera pindahkan kaki saya ke pedal rem sehingga tidak sampai menabrak milik orang lain yang ada di belakang saya.

Belajar Mengemudi Mobil di QUEEN


Kami membeli mobil bulan Oktober, bertepatan dengan bulan kelahiran saya. Seharusnya mobil Taruna itu menjadi kado ter-wah namun yang ada saya malah stres. Iya beneran, saya sampai stress karena tidak kunjung bisa mengemudikan mobil. Sudah bayar lumayan mahal buat kursus, eh hasilnya nihil. Di dalam diri saya ini ada keinginan untuk bisa segera jalan-jalan naik mobil bersama keluarga. Namun kepercayaan diri dan keberanian saya langsung drop setiap kali masuk mobil dan berada di balik kemudi.
Mama Ivon sampai geregetan menunggu saya bisa mengemudikan mobil, bahkan dia berencana untuk kursus mobil juga. Dia sering menyuruh saya untuk menonton video-video belajar mengemudi mobil milik channel Mas Zidnie, Widi Mandiri dan lainnya. Saking penginnya bisa nyetir mobil, saya sampai menghubungi no WA Pak Widi Mandiri untuk mengikuti terapi takut belajar mengemudi secara jarak jauh. Sayangnya tarif terapinya cukup mahal sehingga saya nggak jadi daftar wekekeke.




 Alhamdulillah Mama Ivon dapat referensi kursus mengemudi mobil secara privat dari salah satu sahabatnya. Sahabat Mama Ivon, namanya Mak Yani, dulu juga kursus di Natuna. Lalu untuk menyempurnakan kemampuannya dia kursus lagi secara privat yaitu menggunakan mobil sendiri. Nama tempat kursusnya adalah QUEEN, sedangkan pemiliknya adalah Mas Indra. Btw Mas Indra ini ternyata bekas instruktur di Natuna lho, beliau resign dan membuka jasa kursus mengemudi sendiri.
Tarif kursus QUEEN waktu itu (November 2019) 100 ribu setiap kali pertemuan dengan durasi 2 jam. Bagi saya durasinya ini panjang banget, saya jadi semangat karena bisa belajar lebih lama. Di pertemuan pertama, Mas Indra langsung menanyakan kepada saya tentang target yang ingin saya capai di latihan pertama ini.
Bisa mengemudikan mobil dengan lurus, itu jawaban saya. Sebelumnya saya pernah latihan bersama temen blogger Mas Endrita ketika pulang dari takziah, saya mengemudi mobil seperti keris alias belok ke kanan dan ke kiri. Trus saya juga ingin bisa lancar keluar masuk dari gang rumah saya karena medannya cukup sulit: agak sempit dan ramai dengan motor dan pejalan kaki.

Trik Mengemudikan Mobil LURUS


Tempat kami latihan pertama kali di jalan buah-buahan, saya lupa nama jalannya, pokoknya di area Raya Langsep. Mas Indra langsung memberikan tips agar bisa mengemudikan mobil dengan lurus yaitu dengan cara memasang penanda di kaca depan mobil. Jadi Mas Indra memasang penanda (bisa dari sedotan atau kertas dilipat-lipat) tepat di tengah kaca. Nah agar mobil berjalan lurus saya harus bisa memposisikan penanda tersebut tepat di tengah jalan yang saya lewati. Semoga kalian paham ya maksud saya wekekeke.
Dan memang manjur dong tipsnya, setelah latihan pertama itu saya sudah bisa mengemudikan mobil dengan lurus. Kepercayaan diri saya secara otomatis terkatrol naik. Jujur saja, saya tidak pernah mendapatkan trik tersebut dari Natuna. Dulu saya hanya disuruh mengemudi mengikuti alur jalan tapi tidak dikasih tauu caranya gimana wekekeke.
Total saya latihan mengemudi bersama Mas Indra sebanyak tiga kali. Jujur saja, saya merasa cocok dan lebih mudah menerima materi yang diberikan. Latihan kedua saya diajari medan naik turun sedangkan latihan ketiga saya belajar mengemudi ke tempat kerja. Mas Indra tidak hanya sekedar mengajarkan teori namun juga memberikan masukan dan ngajak sharing apa saja kendala saya, terutama dari sisi psikologis. Intinya Mas Indra berusaha meningkatkan rasa percaya diri dan keberanian saya dan itu tidak saya dapatkan di tempat kursus sebelumnya.
Di akhir pertemuan ketiga, Mas Indra memberikan saya PR untuk belajar mengemudi ke tempat kerja selama seminggu sehabis shubuh. Alasannya karena jalannya masih sepi sehingga saya bisa lebih mudah belajarnya. Oh iya, beliau juga mengajari saya memarkirkan mobil secara aman ke karpot di rumah yang permukaannya menanjak.


belajar mengemudi mobil

Itulah sharing saya tentang pengalaman belajar mengemudi mobil di dua tempat kursus. Tulisan saya ini bukan bermaksud menjelekkan pihak tertentu, saya hanya menulis berdasarkan apa yang saya alami. Namanya guru dan murid kadang juga cocok-cocokan terutama dalam metode pembelajaran. Murid A cocok dengan cara mengajar guru 1, belum tentu murid B cocok. Bisa jadi murid B cocok dengan cara mengajar guru 2. Selain itu juga proses belajar setiap orang berbeda, ada yang cepat menerima ada juga yang lambat.


PS:
Bagi yang ingin kursus di QUEEN bisa menghubungi nomer berikut: 085755358123


14 comments:

  1. Ya Allah... Akhirnya sudah bisa ya sekarang. Alhamdulillah... Selamat papa biruu 😁 udah bisa sering² ke Blitar donk ya

    ReplyDelete
  2. Itu kursus bisa sekaligus sambil buat SIM nya gak?

    ReplyDelete
  3. Alhamdulillah, gak rugi lah ya istrinya cerewet sekaligus setengah memaksa diaja keluar bawa mobil biar makin lancar

    ReplyDelete
  4. This comment has been removed by a blog administrator.

    ReplyDelete
  5. Alhamdulillah ... horeee akhirnya punya mobil baru dan bisa nyetir jugaaaaa ... Nyetir itu aslinya jam terbang juga kok mas. Makin sering nyetir Insya Allah makin lenyoh nyetirnya ... Selamat yaaaaa ...

    ReplyDelete
  6. Kalau adikku belajar sama temennya, gratis, wahahaha. Aku juga ada keinginan buat kursus nyetir meski belum punya mobil. Nyicil dulu, kendaraan belakangan

    ReplyDelete
  7. keputusan yang tepat untuk membeli mobil karena kebutuhan sudah mendesak dan ngga bisa ditawar lagi ya kang. Jadi bisa mudik deh kalau begini

    ReplyDelete
  8. Ya Allah, pas banget waktu baca postingan ini saya sedang berjuang belajar mengemudi. Sepertinya karena faktor nerveous deh makanya sampai sekarang nggak mahir2.

    ReplyDelete
  9. barokallah ya Papa Biru akhirnya bisa menyetir juga barokallah udah punya mobil, aku juga pengen punya mobil sendiri. Mudik ke Kendal dari Pemalang capek juga pake motor kurleb 3jam soalnya. Kalau kursus paling minta ajari kakak atau adik, di rumah ibuk ada sedan dua. Tapi payah juga aku ga bisa nyetiir ga goleh katanya wkwkw sebel kan

    ReplyDelete
  10. Sebelum punya krucil semper kursus nyerir eh nggak diterusin mobilnya nggakanda, sekarang lupa lagi, congrats ya papa Biru, makin labncar deh mudik

    ReplyDelete
  11. Iya mas betul, belajar mobil itu cocok2an. Ingat dulu aku ikut kursus mengemudi krn ga mau belajar sama ayah. Takut dimarahin kalau salah hehe....eh ternyata si guru kursus suka nakut2tin gitu, selalu bilang kalau cewek lamban brlajar nyetir. Walhasil belajar dg adikku yg masih SMA, meski dia masih SMA tapi enakan ama dia, dia nyemangatin bukan malah bikin kita mikir kalau kita ga bakalan bisa

    ReplyDelete
  12. Belajar menyetir memang perlu sering-sering praktek, dan juga kesabaran sih menurut saya, banyak orang yang lihai tapi enggak sabar juga berbuntut ke diri sendiri.

    ReplyDelete
  13. MashaAllah~
    Barakallahu fiik, kak.

    Makin sering dibawa, kak..makin lancar karena jam terbang.
    Yang paling enak itu kursus sama orang lain..hehehe...aku pas belajar terus nekat curi-curi kunci buat halan-halan sendiri. Terutama di tantangan jalan naik-turun, parkir dan jalan sempit.

    ReplyDelete
  14. Alhamdulillah..selamat atas ketekunannya, Mas. Semoga dengan makin banyak jam terbang makin mahir juga nyetirnya.

    ReplyDelete