Keluarga Biru

Featured Post

Berumur Panjang Demi Keluarga Tercinta - My Healthiness My Precious Moment

Di keluarga besar saya, umur para pria mayoritas lebih pendek bila dibandingkan dengan umur para wanita. Sejak lahir saya tidak...

Laman

Who Can Stop Awkarin?

Keluarga Biru         21 comments



Who Can Stop Awkarin



Dunia maya saat ini sedang dihebohkan dengan sensasi dan popularitas selebgram Karin Novilda atau populer dikenal dengan nama Awkarin. Sepak terjang gadis yang punya tato mawar hitam di lengan kanannya ini memang bikin orang terheran-heran, dia enteng saja upload foto-foto dirinya mengenakan busana seksi dan terbuka, melakukan aktivitas yang identik dengan kenakalan remaja seperti merokok, minum minuman keras hingga dugem. Bahkan Karin tidak risih mengumbar kemesraannya dengan sang pacar: Gaga di akun IG, Vlog dan Snap Chat.


Awkarin dan Sensasinya

Puncaknya adalah vlog Karin yang bertajuk "Gaga’s Birthday Surprise & My Confession". Dalam video yang sudah ditonton 2,6 juta kali itu Karin menangisi mantan pacarnya tersebut, dia juga mengaku capek menghadapi para hatters-nya. Tak hanya itu saja, Karin bahkan mengaku menggunakan bocoran kunci jawaban saat ikut UN SMA yang lalu.
Yang membuat Awkarin makin disoroti bahkan menjadi idola para remaja adalah dengan image bad girl tersebut, Awkarin malah berhasil menarik online shop untuk mengendorse dirinya. Setiap bulan Awkarin mendapatkan penghasilan berupa barang sekitar 50 item tiap bulan, jika dirata-rata maka dalam sehari dia mendapatkan penhasilan 32 juta. Ini belum termasuk dari Youtube yang saat ini sudah mencapai 100 juta. Akun sosmed Awkarin ibarat mesin uang yang semakin menjadikannya kaya raya di usia yang masih sangat muda.
Fenomena Awkarin sebenarnya adalah fenomena gunung es. Di luar sana banyak Awkarin-Awkarin lainnya yang tak malu share kehidupan personalnya di social media, mulai dari tulisan, foto hingga video. Sayangnya yang di-share kebanyakan adalah gaya hidup anak muda yang kebablasan: umbar kemesraan bareng pacar, aktivitas nakal seperti merokok dan minum di bawah umur, menyiksa binatang hingga menghina lambang dan ideologi bangsa.

Masa Lalu di MP

Apa yang dilakukan Awkarin mengingatkan pada diri saya sendiri saat masih ngeblog di Multiply (MP). Dulu saya suka sekali menulis tentang kehidupan pribadi saya di blog, tak hanya tulisan bahkan saya juga memasang foto-foto diri di album. Tak hanya cerita keseharian tapi juga cerita cinta saya hingga masa-masa galau saat habis putus pun saya tulis di sana. Saking identiknya dengan curhat dan narsis saya sempat masuk nominasi MPers Curhat dan Ternarsis.
Motivasi saya melakukan itu semua karena saya membutuhkan perhatian dan pengakuan dari dunia luar. Saya bukannya kurang perhatian dan kasih sayang dari keluarga, saya terlahir sebagai anak bungsu yang paling disayang, diperhatikan dan dieman-eman. Namun di satu sisi, apa yang keluarga saya lakukan itu malah membuat saya merasa terkekang, mau melakukan hal yang di luar kebiasaan atau aturan keluarga pasti harus melalui proses negosiasi yang alot.
Kayak misalnya, dulu saat masih SMP saya dilarang ikutan kamping Pramuka padahal lokasi sekolahnya dekat. Trus saat udah kerja saya mau ikutan kamping di Pulau Sempu bareng temen-temen alumnus SMA, keluarga saya melarang banget. Alasannya mereka khawatir dengan keselamatan saya, khawatir nanti saya kenapa-kenapa, nggak kerasan atau nggak bisa tidur. Duh kah, kalau saya masih SMP mungkin saya masih bisa terima, lha ini saya sudah dewasa lho.
Parahnya lagi saya termasuk introvert dan cenderung pendiam, makin sempurna hidup saya. Saya jadi kuper, nggak punya banyak teman, baik itu di kampung atau sekolah. Bahkan sampai lulus SMA saya belum pernah merasakan yang namanya pacaran, saya jadi merasa saya ini jelek banget di mata teman-teman cewek di sekolah. Ini berbanding terbalik dengan keluarga yang sering bilang saya ganteng, ya iyalah mana ada sih ibu atau bibi yang bilang anak atau keponakannya jelek.
Saya terbiasa menuliskan uneg-uneg atau masalah di buku harian karena memang dasarnya saya irit bicara. Nah semua berubah ketika saya mengenal internet, khususnya MP. Saya bisa belajar membuka diri, kebiasaan menulis di buku harian berpindah ke blog. Saya pun jadi bisa berteman dengan banyak orang, dari luar kota, luar pulau bahkan luar negeri meski orangnya tetep orang Indonesia sih he he he.
Dari banyaknya pembaca blog yang komen di tulisan dan foto membuat saya mulai menyadari potensi atau kelebihan di dalam diri saya. Oh ternyata ada yang suka sama tulisanku, ada yang senang baca cerpenku, eh ada yang bilang aku ganteng uhuk uhuk. Ternyata aku nggak seburuk yang aku kira selama ini. Keluarga saya memang kurang familiar dengan dunia tulis-menulis sehingga mereka tidak bisa memberikan apresiasi.
Dari situ, saya jadi kayak kecanduan. Semua hal-hal pribadi saya tulis di blog, bahkan foto-foto sama pacar juga saya pasang demi mendapatkan lebih banyak perhatian dan pengakuan dari teman-teman. Saya berani total share kehidupan pribadi di MP karena MP memiliki settingan dimana kita bisa memilih postingan kita apakah untuk umum (blogger non MP bisa baca juga) MP, friend atau private.





Dakwaan PDA: Antara Teguran dan Evaluasi Diri

Nah kebiasaan share kehidupan pribadi ini masih terbawa setelah saya menikah. Di awal-awal menikah hingga Mama Ivon mengandung Baby Enju, saya suka share tentang kehidupan keluarga baru saya di MP. Entah karena saya terlalu over berinteraksi dengan Mama Ivon di MP atau karena beda prinsip saja, apa yang kami lakukan di MP membuat seorang teman akrab mengritisinya dalam sebuah tulisan. Namanya blogger, tidak puas hanya menjawab di komen saya pun membuat tulisan tandingan. Tentu saja tulisan tandingan saya itu ramai banget, bahkan mendatangkan pro dan kontra di antara MPers. MP jadi kayak terbelah jadi dua, antara yang mendukung saya atau teman saya.
Tidak hanya itu saja, para hatters pun bermunculan dan membuat tulisan yang terang-terangan menyudutkan saya. Intinya sih saya dan Mama Ivon didakwa melakukan PDA yaitu Public Display of Affection. Public Display of Affection adalah memperlihatkan emosi antara dua orang yang saling menyayangi dalam ranah publik. Rasanya waktu itu campur aduk, kecewa, sedih, marah dan geram apalagi sama MPers (sebutan buat blogger di MP) yang nge-judge seenaknya. Bahkan ada yang bela-belain invite saya sebagai kontak hanya agar bisa baca tulisan saya dan nyeramahin saya panjang kali lebar.
Alhamdulillah masalah itu sudah clear, kami sudah berbaikan dengan teman saya itu. Kalau sama hatters sih jujur saja sampai sekarang saya masih susah untuk melupakan. Karena mereka tidak mengenal saya sebelumnya, tau-tau komen seenaknya dan menghakimi saya. Seolah-olah PDA saya dan Mama Ivon sudah level parah seperti yang dilakukan Awkarin saat ini. Padahal kami hanya berinteraksi mesra seperti memanggil Ndut di postingan dan komen.
Gara-gara dakwaan PDA itu, saya jadi jera dan mulai menarik diri dari dunia maya. Apalagi kemudian MP ditutup, meski sedih sekali namun di satu sisi itu berkah juga buat saya karena saya bisa menghentikan share kehidupan pribadi dan keluarga di dunia maya, khususnya blog. Ketika akhirnya saya comeback ke dunia blog pada tahun 2015, saya sudah menentukan batasan-batasan yang tegas apa saja yang akan saya share di internet. Untuk itu, hari ini saya berterimakasih kepada teman saya dan hatters yang sudah mengingatkan saya dulu. Terkadang kita memang harus dijewer agar tahu kalau kita salah.





Who Can Stop Awkarin?

Kembali ke fenomena Awkarin. Saya bisa mengerti kenapa Awkarin melakukan semua itu. Dari sisi akademis Karin Novilda termasuk anak cerdas dan membanggakan kedua orang tuanya. Tapi mungkin dia mengejar pengakuan dari dunia luar, bahwa seorang Karin Novilda tidak hanya cerdas namun juga cantik, seksi, berani dan gaul. Saya pun bisa mengerti kenapa Karin begitu bangga memasang foto mesranya bersama Gaga, pacarnya yang ganteng, brondong dan tajir pula.
Dalam wawancara di sini, Awkarin menuturkan bahwa sebenarnya orang tuanya terlalu mengekang:

“Mereka itu terlalu mengekang. Pulang jam 7 malam saja aku ditanyain. Saat pergi sendiri aku masih harus ditemani oleh mama, padahal dia sibuk, sehingga aku tidak pernah keluar. Aku fight back dan bilang ingin berkembang dengan belajar dari kesalahan-kesalahan yang aku dapat.”

Saya bisa mengerti kenapa Awkarin melakukan itu sebab saya dulu juga berada di posisi yang mirip dan melakukan hal yang sama, meski levelnya nggak seberani dia. Saya juga merasa dikekang tidak hanya oleh orang tua tapi juga keluarga besar. Saya memberontak secara halus lewat tulisan di blog. Trus kalao soal foto pacar, foto paling berani yang pernah saya upload di MP adalah foto renang bareng pacar pertama saya. #tepokjidat #untungkeluargatidakliat #untungMPsudahtutup
Awkarin makin kecanduan dan kebablasan ketika foto-fotonya banyak yang ngelike, followernya makin bertambah, pergaulan dan gaya pacarannya yang bebas dianggap sebagai relationship goal oleh para remaja kekinian. Apalagi kemudian ada online shop yang mengendorsenya, siapa sih yang tidak senang mendapatkan uang dari aktivitas yang disukainya? Sama kayak kita para blogger, yang makin rajin menulis setelah tahu kita bisa monetize blog kita.
Lalu siapa yang bisa menghentikan sepak terjang Awkarin yang membuat para orang tua khawatir dan mengelus dada?
Kalau saya dulu bisa tobat karena diingatin sama teman dan hatters maka Awkarin adalah pengecualian. Sepertinya dia adalah tipe orang yang jika dilarang atau dihujat malah akan semakin menjadi-jadi.
Keluarga tetap memegang peranan yang utama. Di akun IG-nya, Karin pernah mengupload foto bersama keluarganya beserta caption yang intinya Awkarin tidak mau peduli dengan hujatan, cacian dan makian para hatters-nya. Baginya kebahagiaan dirinya sendiri dan keluarga adalah yang utama.
Semoga apa yang ditulisnya itu memang dari hatinya yang terdalam. Membahagiakan orang tua tidak hanya sukses di akademik dan menjadi jutawan di usia muda. Apalagi orang tua Awkarin merupakan orang berada, pasti tidak membutuhkan lagi uang dari anaknya.
Membahagiakan orang tua itu adalah dengan memberikan ketentraman dan kesejukan di hati mereka. Hati orang tua mana yang tak resah melihat tingkah polah anaknya yang begitu bebas di dunia nyata dan maya. Hati orang tua mana yang tak sedih melihat anaknya dihujat sana-sini bahkan dianggap sebagai perusak moral generasi muda. Hati orang tua mana yang bisa tenang memikirkan hari dimana mereka akan dimintai pertanggungjawaban sebagai orang tua?

Ya, semoga Awkarin mau memikirkan hal ini sekali saja. Semoga, aamiin.



PS
Sebetulnya anak-anak muda seperti Awkarin tidak perlu dihentikan namun diarahkan untuk melakukan hal-hal yang positif. Awkarin anak yang cerdas, kreatif dan berbakat. Alangkah baiknya jika semua potensinya itu bisa disalurkan untuk hal-hal yang positif pula. Jika Awkarin bisa menyebarkan virus-virus positif untuk generasi muda, maka saya akan mengamini keinginannya untuk menjadi 10 orang berpengaruh di dunia.

Published by Keluarga Biru

Keluarga Biru adalah blog milik Ihwan Hariyanto dan Ivonie Zahra. Mereka menulis tentang parenting, traveling dan kuliner yang mereka lakukan bersama dua buah hati mereka Aiman dan Aira.
Follow us Google+.

21 comments:

  1. awkarin memang akhir2 ini lagi heboh banget ya mbak :D
    awalnya saya ga tau awkarin itu siapa, ehh ternyata :D hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya Mas-mas neh, kan saya nulis di atas kalau ada yang muji saya ganteng wakakaka.
      Ternyata kenapa Mas Robby? Bikin tersepona ya hehehe

      Delete
    2. owalah ternyata saya salah, saya kira .... #ahsudahlah :D

      sedikit terharu mas ngeliat vidionya yang Gaga’s Birthday Surprise. dia berusaha utk jujur dan terbuka ke semua orang

      Delete
  2. hahahaha...
    awal aku kenal kang ihwan diotakku bilang ini suami mesra banget ya. maksudnya nunjukin kepublik. tapi kalau aku liat oo emang orangnya seperti ini berdua seperti ini. kalau dulu sih suami pas belum nikah gitu pas nikah lempeng :V*lemparin bakiak *loh malah curhat

    intinya sih mas, kadang emang tidaksemua kudu tahu tapi karena aku kebiasaan apa2 post ya gpp. mungkin karena kang biru ini cowok, pan jarang2 yang gitu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kami sekarang lebih kalem kok Mbak, beda sama di MP dulu. Palingan aku komen di tulisan atau foto masakannya, bilang makasih udah masakin buat bekal kerjaku. Masa iya kayak gitu dibilang PDA juga? he3

      Hehehe suami kayak saya ada kok di luaran sana, tapi memang limited edition :D #mulaisongong

      Delete
  3. lg hot bgt ni awkarin, semoga keluarganya bs merangkul dia kembali

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Mbak, bagaimanapun juga keluarga lah yang paling berpengaruh dalam membentuk pribadi anak. Semoga kita bisa mendidik dan mengasuh anak-anak kita dengan baik di zaman kekinian yang semakin berat tantangannya ini, aamiin.

      Delete
  4. sebenarnya aku juga sama sih sm awkarin mas, pulang habis magrib ditanyain...kalau pergi malem jam8 harus sudah pulang padahal jam7 baru mau keluar. Pokoknya apa2 sampe mana mau kemana harus ngabarin bahkan kadang di telponin mamaku. Sampe sekarang uda punya suami pun tetep aja gitu. Tapi, balik lagi ke personel masing2 sih ya. Menganggap itu pengekangan sehingga perlu berontak apa menganggap itu biasa aja. Ya kl menganggap pengekangan mungkin benar kalimat mas ihwan kudu di arahkan hehhee...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Perhatian orang tua memang kadangkala sering disalah artikan sebagai pengekangan, cara dan porsinya aja yang harus disesuaikan dengan kondisi anak dan lingkungan sekitar.
      Iya, semoga keluarga Awkarin bisa merangkul dan mengarahkannya kembali.

      Delete
  5. Jadi merasa senasib. Tapi dulu saya takut menceritakan ke siapa-siapa.

    Akh...aku jadi pengen curhat beginian juga di blog aku.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Toss dulu kalo gitu.
      Silakan Tya curhat di blognya, nanti colek saya ya kalo udah publish.

      Delete
  6. Wkwkw.. aku masa SMA juga lumayan nakal loh... ortu mah pengekang, apalagi babe, terlalu disayang, etapi kalau keluar enggak boleh jadi pas bisa keluar malah kebablas.. hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Wit, kebanyakan kalo terlalu dikekang nanti pas udah boleh keluar malah kebablasan sebab kaget dengan kebebasan yang baru didapatnya.

      Delete
  7. Hahaha aku jadi inget masa2 MP itu. Seruuuuu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wekekeke, seru-seru sedeeep apalagi pas dibully orang se-MP :-)))

      Delete
  8. Waaa nggak nyangka Mas Ihwan dulunya suka curcol, hehehehe. Aku malah nggak tau multiply. Kudet banget ya huhuhuhu. Cuman tau Frenster and mIRC :v

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dari curcol bisa membawa berkah Mbak, karena keseringan curcol akhirnya nulis novel judulnya Xerografer: Curhat Colongan Tukang Fotokopi hehehe
      Nggak apa-apa Mbak, MP itu emang kayak blog rahasia kok.

      Delete
  9. Diputusin gaga ini yg heboh banget dan akhirnya viral

    ReplyDelete
  10. Orangtua saya terutama ayah juga lumayan ketat sih orangnya, kadang ya terasa terkekang juga, apalagi karena saya anak tunggal. Cuma kalau muncul pikiran aneh-aneh langsung saya tepis. Soalnya alhamdulillah masih kepikiran kalau mau nganeh-nganeh yang rugi juga saya sendiri & kasihan orang tua. Semoga Karin bisa menyalurkan kecerdasan & kreativitasnya ke hal-hal yang lebih positif.

    ReplyDelete
  11. Awkarin ini kreatif. Tinggal gimana ada yabg mengarahkan saja.

    ReplyDelete
  12. Latar belakang memang punya pengaruh pada apa yang dilakukan seseorang ya :)

    ReplyDelete

Jika menurut Anda artikel ini berguna mohon dukungannya dengan memberikan donasi via PayPal untuk maintenance blog Keluarga Biru. Terimakasih ^_^

Google+ Followers

Followers

Total Pageviews

Contact

Powered by Blogger.