Cerita Frenotomi Tongue Tie di RSIA Mardi Waloeja Malang

by - October 04, 2018





Cerita Frenotomi Tongue Tie di RSIA Mardi Waloeja Malang


Assalamualaikum sobat KB, apa kabarnya? Lama ya saya, Papa Ihwan tidak menyapa sobat semua di blog kami ini. Mohon maaf karena selama ini saya (sok) sibuk membangun channel Aiman dan Aira sehingga waktu, pikiran dan tenaga banyak tersedot ke sana. Nah kemarin ada komentar masuk di postingan saya tentang Tongue Tie yang menanyakan dimana Aira menjalani operasi Tongue Tie. Dari situlah saya akhirnya tergerak untuk menulis postingan ini. Agak berat juga karena operasinya sudah 2 tahun yang lalu sehingga saya musti menggalih lebih dalam ingatan saya.
 
Jadi setelah diperiksa oleh dr. Brigitta dan didiagnosa jika Aira mengalami gangguan tali lidah pendek atau Tongue Tie maka kami pun dengan mantap memilih tindakan insisi atau frenotomi untuk Aira. Alhamdulillah RSIA Mardi Waloeja Malang, tempat dr. Brigitta  praktek ini juga membuka layanan insisi untuk bayi sehingga kami tidak perlu pusing mencari rumah sakit lain.






Cerita Frenotomi Tongue Tie di RSIA Mardi Waloeja Malang



Di hari yang sudah dijadwalkan kami berempat datang ke RSIA Mardi Waloeja Malang. Sebenarnya kami ingin menitipkan Mas Aiman di rumah neneknya agar tidak mengganggu jalannya operasi. Namun karena kondisi tidak memungkinkan, akhirnya kami terpaksa mengajak Mas Aiman juga. Sejak dari rumah kami memutuskan bahwa saya yang mendampingi Aira menjalani operasi karena Mama Ivon nggak tega liat Aira dioperasi meski hanya operasi kecil. Dr. Brigitta sudah menjelaskan bahwa insisi untuk mengatasi Tongue Tie ini hanyalah operasi kecil dan tidak perlu bius lokal. Prosesnya juga singkat, tidak sampai 15 menit begitu kata beliau.



Operasinya dilakukan di Ruang UGD dan hanya disekat dengan kelambu saja. Setelah tempat dan alat disiapkan saya pun menidurkan Aira di atas ranjang dengan posisi terlentang. Mama Ivon dan Aiman tetap menunggu di dalam Ruang UGD. Oh iya, Aira sengaja dibedong oleh suster agar dia tidak berontak selama proses operasi.


Cerita Frenotomi Tongue Tie di RSIA Mardi Waloeja Malang


Dr. Brigitta dibantu oleh dua orang perawat, perawat 1 bertugas membantu proses insisi sedangkan perawat 2 bertugas memegangi Aira. Dr. Brigitta kemudian mengambil gunting dan japit yang sudah disiapkan oleh perawat 1 dan mulai mendekatkannya di atas Aira yang sudah berbaring telentang. Meskipun masih bayi tapi insting Aira sepertinya sudah paham bahwa akan terjadi sesuatu pada dirinya, mimik wajahnya mulai memperlihatkan rasa takut. Apalagi ketika melihat ada gunting dan japit di atas wajahnya, tangisnya pun langsung pecah.


Cerita Frenotomi Tongue Tie di RSIA Mardi Waloeja Malang


Posisi saya yang saat itu berada di belakang dr. Brigitta hanya bisa bilang cup-cup agar Aira tenang sambil tetap memotret dan merekam proses dimulainya insisi. Tangis Aira makin menjadi-jadi ketika dr. Brigitta mulai memotong semacam selaput yang berada di bagian bawah lidah Aira. Tangisan Aira yang kencang itu otomatis terdengar menggema di Ruang UGD dan membuat Mas Aiman yang berada di balik kelambu jadi penasaran dan ingin melihat apa yang sedang terjadi pada adiknya. 


Cerita Frenotomi Tongue Tie di RSIA Mardi Waloeja Malang


Tentu saja Mama Ivon tidak mengijinkan Mas Aiman ikut masuk, tapi ya gitu namanya anak kecil semakin dilarang malah semakin penasaran. Mungkin karena dilarang masuk oleh Mama Ivon sehingga Aiman ikutan menangis juga. Aira masih terus menangis, saya nggak tahu apakah dia menangis karena takut atau kesakitan. Saya sendiri berusaha stay cool mengabadikan proses insisi Tongue Tie karena saya percaya dan yakin kalau Aira sudah ditangani dengan baik oleh dr. Brigitta. Saya juga memahami kesulitan yang dihadapi dr.Brigitta menggunting tali lidah bayi yang sedang menangis kencang. Ada sekitar tiga kali beliau melakukan proses pengguntingan, setiap kali selesai menggunting bagian bawah lidah Aira diseka menggunakan kapas yang sudah diberi cairan Betadine.

Alhamdulillah proses operasi Tongue Tie itu pun selesai. Dr. Brigitta sempat memperlihatkan pada saya jari telunjuknya yang dipakai untuk memeriksa lidah Aira yang sudah menjalani proses operasi, di sana tidak ada darah sama sekali. Itu sebagai bukti pada saya bahwa operasi Tongue Tie ini memang hanya operasi kecil dan singkat.


Cerita Frenotomi Tongue Tie di RSIA Mardi Waloeja Malang


Setelah itu Baby Aira diberikan kepada Mama Ivon untuk disusui, ini untuk melihat perubahan proses menyusui setelah dilakukan tindakan operasi. Alhamdulillah, menurut Mama Ivon emang beda banget, dia tidak lagi merasakan kesakitan ketika menyusui dan Aira pun tidak mengalami kesulitan.


ibu menyusui bayi tongue tie


Menurut SOP perawatan pasien di RSIA Mardi Waloeja Malang setiap pasien yang baru menjalani operasi harus rawat inap di kamar untuk pemulihan. Tapi khusus Aira tidak diwajibkan menginap karena operasinya skala kecil namun tetap kena charge rawat inap. Jadinya kami waktu itu hanya numpang tidur siang aja di kamar rumah sakit wekekeke.


Cerita Frenotomi Tongue Tie di RSIA Mardi Waloeja Malang






Cerita Frenotomi Tongue Tie di RSIA Mardi Waloeja Malang



Sesudah jam makan siang, dr.Brigitta visiting ke kamar untuk pemeriksaan akhir. Beliau mengajarkan kepada kami terapi pada lidah Aira agar Tongue Tie-nya tidak kambuh lagi. Caranya mudah banget yaitu dengan menggosok lidah bagian bawah menggunakan telunjuk yang sudah dicelupin ke air hangat.




Demikianlah cerita frenotomi atau insisi bayi dengan tali lidah pendek yang dilakukan Aira di RSIA Mardi Waloeja Malang. Alhamdulillah operasinya berjalan dengan lancar dan sukses.  Secara keseluruhan kami cukup puas dengan pelayanan dan perawatan di rumah sakit tersebut. Untuk biaya operasi Tongue Tie Aira sebesar 1 juta mulai dari biaya dokter hingga rawat inap dan sayangnya tidak bisa discover BPJS wekekeke. 


Cerita Frenotomi Tongue Tie di RSIA Mardi Waloeja Malang


Semoga tulisan saya ini bermanfaat bagi para orang tua yang anaknya mengalami Tongue Tie seperti Aira. Jika buah hati Anda mengalami Tongue Tie segara bawa ke dokter anak untuk mendapatkan penanganan agar dia bisa mendapatkan haknya yaitu ASI dengan baik dan sang ibu pun bisa menyusui dengan perasaan bahagia tanpa rasa sakit. Karena dalam proses menyusui bukan hanya sekedar pemberian ASI namun ada bonding yang menguatkan hubungan ibu dan anak.


You May Also Like

3 comments

  1. Tongue tie itu memang bawaan dari lahir ya?
    Beneran baru tau, nih.

    ReplyDelete
  2. Halo Mas Ihwan, anak saya juga tongue tie dan kami lagi mempertimbangkan untuk frenotomy. Saya ingin tanya, apakah sekarang tidak ada efek samping dari frenotomy 2 tahun lalu pada Baby Aira?

    ReplyDelete