Anak Hilang di Mall

 

anak hilang di mall

“Gimana Ma, ada tas yang cocok nggak?” tanya saya pada Mama Ivon yang sudah selesai melihat-lihat tas yang sedang ada promo diskon. Malam itu kami pergi ke salah satu mall di Malang untuk membeli sepatu sekolah buat Mas Aiman, anak sulung kami yang akan masuk sekolah. Kami membeli sepatu di salah satu department store yang menjual pakaian, sepatu, tas hingga mainan anak.

Pada tanggal 19 April 2020, hampir semua sekolah negeri di Malang mulai dari tingkat SD sampai SMA mulai menerapkan belajar tatap muka. Setelah memeriksa semua persiapan untuk sekolah, ternyata kami belum membelikan sepatu sekolah baru buat Mas Aiman. Harap maklum, selama setahun lebih anak-anak belajar di rumah karena pandemi sehingga tidak pernah memakai sepatu sekolah. Ternyata sepatu sekolah yang kami beli saat awal masuk sekolah sudah tidak muat lagi.

 

anak hilang di mall
Mama Ivon saat melihat-lihat tas

“Nggak ada, yuk lanjut cari sepatu buat Mas Aiman.” Kami pun lalu berjalan meninggalkan rak yang berisi tas.

“Ayo Mas..” seru saya pada Mas Aiman yang sedari tadi sibuk main sembunyi-sembunyian di antara baju-baju yang digantung.

“Lho Adik Aira mana Mas?”

“Ehmm nggak tahu…”

“Kok nggak tahu, bukannya tadi main sembunyi-sembunyian sama kamu?”

“Iya trus aku lihat dia jalan lurus ke sana, trus nggak keliatan,” jawab Mas Aiman seraya menunjuk ke arah pintu masuk dan keluar.

“Lha kok kamu biarin, harusnya dipanggil dong Mas.”

Kami langsung memanggil-manggil nama Aira sambil mencari di antara gantungan baju, siapa tahu dia bersembunyi di situ. Tapi hasilnya nihil. Saya mencoba mencari lagi di antara gantungan baju yang lain namun tetap saja saya tidak menemukan Aira.

Mama Ivon menyebar ke bagian yang lain, sementara saya menggandeng Mas Aiman mencoba mencari di dekat pintu keluar masuk. Berdasarkan keterangan Mas Aiman, saya kuatir kalau Aira berjalan keluar dari department store langganan kami ini.

“Pak, apa Bapak melihat anak perempuan umur 5 tahun rambut pendek mengenakan baju pink dan rompi biru keluar dari sini?” Tanya saya pada satpam yang berjaga di pintu keluar masuk.

“Tidak Pak, pengunjungnya cukup ramai sehingga saya tidak hafal setiap pengunjung yang keluar masuk di sini.”

“Kalau gitu, minta tolong diumumkan Pak di bagian informasi.” Saya pun lalu memberikan ciri-ciri Aira yang lebih detail pada satpam tersebut. Setelah itu saya berjalan keluar menuju bagian mall yang lain. Lagi-lagi hasilnya nihil, bahkan satpam yang berjaga di pintu keluar masuk mall juga tidak melihat Aira. Alasannya sama, pengunjung mall sangat ramai sehingga tidak hafal pengunjung yang berlalu-lalng di pintu keluar masuk mall. Saya bisa memaklumi sih,meskipun sebenarnya saya mengharapkan jawaban yang lebih menenangkan hati.

Not The First Time

Saya dan Aiman lalu kembali masuk ke department store untuk bertemu dengan Mama Ivon. Sambil berjalan saya mencoba berpikir kira-kira dimana Aira berada. Bila dibandingkan dengan Aiman, Aira anaknya kalem dan sedikit pendiam. Dia belum seberani kakaknya bila berada di tempat umum, jadi seharusnya dia belum pergi jauh dari tempat kami berada tadi.

Saya kemudian teringat kejadian serupa yang pernah terjadi pada Mas Aiman dan di toko yang sama pula! Bedanya dulu kami sedang membeli baju untuk Aira, nas Mas Aiman seperti biasa kalau diajak ke mall selalu minta mampir ke toko mainan. Kebetulan di department store ini juga menjual mainan anak di lantai 2.

Sejak masuk toko, Mas Aiman sudah ribut minta naik ke lantai 2. Namun karena kami masih sibuk memilih-milih baju untuk Aira sehingga kami memintanya untuk bersabar. Eh ternyata saat kami sedang antri di kasir, dia sudah nggak sabar sehingga langsung kabur ke lantai 2 tanpa sepengetahuan kami. Ketika sudah selesai membayar barulah kami sadar kalau Mas Aiman sudah tidak ada lagi di dekat kami.

Kami sudah mencari di area sepatu anak, di sela-sela gantungan baju namun hasilnya nihil. Oh iya, sebelum mengantri di kasir kami bertemu dengan atasan saya di kantor. Mas Aiman anaknya emang mudah akrab jika bertemu dengan teman saya atau Mama Ivon, saya pun kepikiran apakah mungkin Mas Aiman ngikut atasan saya. Sialnya HP saya mati sehingga saya tidak bisa menghubungi beliau. Untung kami segera ingat kalau Mas Aiman sejak tadi ribut pengin ke liat mainan anak, kami pun segera naik ke lantai 2.

Beneran dong, saya menemukan Mas Aiman sedang asyik melihat-lihat mainan di lantai 2. Antara gemes tapi juga agak geram. Orang tuanya sampai panik nyariin, eh dia malah asyik sendiri liat mainan. Esoknya saya bercerita kepada atasan saya, ternyata beliau bertemu dengan Mas Aiman di lantai 2. Kebetulan beliau mau membeli mainan untuk cucunya. Ketika melihat Mas Aiman di lantai 2, mereka sudah nanyain dia apakah naik ke lantai 2 bersama saya. Mas Aiman menjawab IYA, itulah sebabnya atasan saya tidak menaruh curiga trus pergi setelah mendapatkan mainan yang cocok.

Dear, where are You?

Kembali ke kasus Aira. Saya pun lalu naik ke lantai 2 bersama Mas Aiman, berharap dia ada di sana seperti kakaknya dulu. Tapi ternyata tidak ada, “Duh kemana kamu Sayang?”

Saya kuatir jika Aira diculik oleh salah satu pengunjung mall yang melihat dia berjalan sendirian. Pikiran saya udah mikir kemungkinan yang terburuk karena belakangan banyak berita tentang penculikan anak. Kami bertemu dengan Mama Ivon di lantai 1 tapi ternyata dia juga belum berhasil menemukan Aira. Raut wajah Mama Ivon sudah terlihat panik, matanya sudah mulai berkaca-kaca.

 

anak hilang di mall

 

“Tadi gimana sih Mas, kok kamu nggak jaga adiknya. Kasihan adik Mas kalau sampai tersesat atau hilang di mall.” Mas Aiman hanya bisa terdiam, matanya ikut memerah dan mulai berkaca-kaca. Saya tidak tega melihatnya, bagaimanapun juga ini salah kami sebagai orang tua yang lalai menjaga anak-anak. Agar Mama Ivon tidak terus-terusan menyalahkan Mas Aiman, saya ajak dia mencari Aira di area luar departemen store.

“Silakan tulis ciri-ciri anaknya di sini Pak. Di mall ini memang sering kejadian anak hilang Pak tapi jangan khawatir pasti ketemu kok,” tukas satpam yang berjaga di Bagian Informasi Mall. Entah saya harus lega atau miris mendengar ucapan satpam tersebut. Mungkin dia belum menikah dan punya anak sehingga dengan mudah bilang seperti itu.

Saya sudah nggak punya ide harus mencari Aira dimana lagi, saya sudah bertanya kepada mbak-mbak pramuniaga di departemen store tapi tak satupun melihat anak yang memiliki ciri-ciri seperti Aira. Kalau sampai dia dibawa kabur oleh pengunjung mall, maka kami harus melaporkan kehilangan anak ke kepolisian.

Setelah muter-muter ke area yang lain, kami kembali ke Bagian Informasi Mall, siapa tahu ada pengunjung mall yang melapor. Sebelum sampai di sana, kami melihat Mama, tangannya mengandeng Aira. Saya langsung lega melihatnya dan buru-buru menghampiri mereka.

“Ketemu dimana?” tanya saya sambil menggendong Aira, matanya sembab karena menangis.

“Tadi aku nyari-nyari lagi di bagian baju di sebelah utara keranjang tas tadi, trus aku nggak sengaja melihat kaki anak kecil mengenakan sandal kayak punya Aira di balik pintu kamar ganti. Aku langsung tengok dan ternyata Aira berdiri ketakutan di situ,” cerita Mama Ivon yang juga tampak baru menangis.

Ya Allah, saya sebenarnya di awal-awal tadi juga sempat kepikiran apa Aira sembunyi di kamar ganti. Namun karena keburu panik Aira diculik orang dan lokasi kamar gantinya yang agak susah ditemukan sehingga saya memilih langsung mencari di pintu keluar.

Kami sebenarnya penasaran kenapa Aira sembunyi di balik pintu kamar ganti, namun karena dia masih terlihat shock maka kami memilih segera mengajaknya pulang saja. Setelah sampai di rumah, barulah Aira bercerita kalau dia memang awalnya main sembunyi-sembunyian bersama kakaknya. Dia lalu bersembunti di kamar ganti, karena tidak keburu ditemukan dia lalu keluar lagi. Tapi sayangnya dia tidak melihat kami bertiga, karena ketakutan akhirnya balik lagi ke kamar ganti. Oalah Nak, pantesan kami cari ke sana ke mari tidak ketemu.

Kejadian anak hilang di mall untuk kedua kalinya ini membuat kami sadar dan introspeksi diri sebagai orang tua. Kami harus lebih berhati-hati dan waspada saat mengajak anak pergi ke tempat publik dan pusat keramaian. Semoga kisah kami ini menjadi pembelajaran bagi para orang tua lainnya, jangan sampai kesibukan kita mengalihkan perhatian dan penjagaan kita terhadap anak-anak terutama saat di tempat umum.

 

 

No comments