Mulai kemarin, jagat maya agak ramai. Bukan soal diskon tanggal kembar atau promo kopi susu literan, tapi soal pernyataan dari Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Arifah Fauzi, terkait insiden kecelakaan di Bekasi Timur. Beliau mengusulkan agar gerbong khusus wanita pada rangkaian KRL Commuter Line dipindah—dengan skema laki-laki di depan dan belakang, sementara perempuan di tengah.
Sebagai bapak-bapak usia 40-an yang sudah kenyang asam garam kehidupan (dan juga kolesterol), saya membaca ini sambil menyeruput kopi, lalu terdiam. Bukan karena tidak paham, tapi karena mencoba mencerna… ini serius atau lagi bercanda tapi lupa ketawa.
Niatnya Baik, Tapi Logikanya Perlu Diajak Ngopi Dulu
Kita semua sepakat: keselamatan itu nomor satu. Tidak ada yang ingin kecelakaan terjadi, apalagi sampai menimbulkan korban jiwa. Dan benar, perempuan termasuk kelompok yang perlu mendapatkan perlindungan ekstra dalam banyak situasi.
Tapi kalau solusi yang ditawarkan adalah “menggeser posisi duduk berdasarkan gender,” rasanya ini seperti memperbaiki genteng bocor dengan memindahkan ember ke tempat lain. Airnya tetap netes, cuma beda titik.
Masalah utama kecelakaan kereta itu bukan di siapa duduk di mana, tapi di sistem keselamatan, sinyal, manajemen perjalanan, dan mitigasi risiko. Kalau akar masalahnya tidak disentuh, mau laki-laki di depan, perempuan di tengah, atau semuanya berdiri sambil saling peluk pun… ya tetap berisiko.
Laki-Laki: Dari Kecil Sampai Tua, Konsisten “Di Depan”
Kadang saya mikir, jadi laki-laki di negeri ini memang penuh konsistensi.
Masih kecil, dimarahin orang tua.
“Jangan lari-lari!”
“Jangan manjat!”
“Jangan nakal!”
Masuk sekolah, dimarahin guru.
“Kenapa PR belum?”
“Kenapa ribut?”
Masuk dunia kerja, dimarahin bos.
“Target mana?”
“Deadline lewat!”
Sudah nikah, ya… kita tahu lah ya. Ini sensitif, tapi realita.
“Mas, kok gitu sih?”
“Mas, tolong dong…”
Dan sekarang… naik kereta pun, diminta di depan dan belakang. Kalau ada apa-apa, ya kita duluan.
Ini kalau dibikin CV, mungkin skill utama laki-laki Indonesia adalah:
“Siap ditempatkan di posisi paling berisiko sejak lahir.”
Satirnya Begini: Kita Ini Manusia, Bukan Airbag
Saya paham mungkin maksudnya adalah laki-laki secara fisik dianggap lebih kuat, lebih tahan, lebih “siap.” Tapi kalau logikanya begitu, lama-lama kita ini diposisikan seperti airbag berjalan: ditempatkan di titik benturan untuk melindungi yang lain.
Padahal, keselamatan publik itu seharusnya tidak dibangun di atas asumsi “siapa yang lebih kuat menahan dampak,” tapi “bagaimana caranya supaya tidak ada yang kena dampak.”
Kalau kita mulai membagi risiko berdasarkan gender, pertanyaan berikutnya jadi banyak:
- Laki-laki usia berapa?
- Bagaimana dengan lansia laki-laki?
- Bagaimana dengan perempuan yang sehat dan kuat?
- Bagaimana dengan anak-anak?
Akhirnya, solusi yang terlihat sederhana malah membuka pintu ke ketidakadilan baru.
Yang Lebih Penting: Sistem, Bukan Susunan Duduk
Kalau boleh jujur, sebagai bapak yang tiap hari mikir cicilan dan masa depan anak, saya lebih tenang kalau yang dibenahi adalah:
- Sistem sinyal kereta yang lebih canggih
- Pengawasan jalur yang lebih ketat
- Protokol darurat yang jelas dan cepat
- Perawatan armada yang konsisten
Karena ketika sistemnya kuat, semua penumpang—baik laki-laki maupun perempuan—punya peluang selamat yang sama.
Penutup: Bapak-Bapak Juga Ingin Selamat Sampai Rumah
Tulisan ini bukan untuk menyalahkan siapa pun. Kita semua bisa keliru, apalagi kalau bicara di tengah tekanan dan situasi yang emosional.
Tapi ada satu hal yang perlu diingat:
laki-laki juga punya keluarga yang menunggu di rumah.
Ada anak yang nunggu dibelikan roti sepulang kerja.
Ada istri yang nunggu diajak cerita di teras malam hari.
Ada orang tua yang berharap anaknya pulang dengan selamat.
Jadi kalau boleh usul, mari kita cari solusi yang tidak menjadikan satu kelompok sebagai “tameng” bagi yang lain. Karena pada akhirnya, di dalam satu gerbong kereta itu, kita semua sama: penumpang yang hanya ingin sampai tujuan… dengan selamat.
Kalau dipikir-pikir, hidup jadi bapak-bapak ini memang unik. Sudah biasa dimarahin dari kecil, ya sekarang ditambah satu lagi: siap jadi “gerbong depan kehidupan.”
Tapi ya sudahlah… sambil ngopi, kita tetap berharap: semoga ke depan, kebijakan yang lahir bukan cuma niat baik, tapi juga tepat sasaran.



No comments