Berkah Nge-Vlog Part 1 - Keluarga Biru: Travelling, Kuliner, Parenting dan Lifestyle

Berkah Nge-Vlog Part 1

by - December 13, 2018




Seperti yang sudah sering saya tulis di postingan-postingan sebelumnya, bahwa selama satu tahun terakhir saya lebih banyak aktif di Youtube. Dalam setiap bulannya, frekuensi upload video di sana bisa melebihi frekuensi saya ngeblog. Boleh dibilang saya menemukan dunia baru yang lebih menantang di Youtube. Nah tulisan saya kali ini akan membahas buah manis dari konsistensi yang saya lakukan di Youtube.

Kabar Gembira dari Jakarta


Di awal bulan November, ketika saya baru saja melepaskan keberangkatan mertua untuk kembali bekerja di Hongkong, saya mendadak dimasukkan ke sebuah WAG oleh seseorang yang tidak saya kenal. Nama WAG-nya: Blog dan Vlog, sayapun mengira ada job baru. Trus saya membuka attachment berupa file PDF yang dikirim sang admin yaitu Ibu Septi. Saya sempat tidak percaya dengan isinya, lalu setelah memastikan kebenarannya hati saya pun berbunga-bunga dan bersyukur kepada Allah.
File PDF itu berisi pengumuman pemenang lomba media massa (cetak, TV dan radio) dan media sosial (blog dan vlog) yang diadakan oleh Kementrian Kesehatan RI. Adapun tema lombanya adalah Indonesia Sehat Melalui Pencegahan Stunting dan Perlindungan Imunisasi. Lomba ini diadakan pada bulan September 2018, saya sendiri mendapatkan informasi tentang lomba dari Mbak Wawa di grup Blogger Crony Community (BCC).



Saya pun mengikutkan vlog yang saya bikin saat mengantarkan Aira imunisasi Difteri di lomba Kemenkes tersebut. Waktu itu sih saya nothing to lose mengingat jam terbang saya di dunia YT terutama vlog masih sedikit. Eh siapa sangka, ternyata vlog kami tersebut dipilih oleh para juri sebagai Juara ke 3. Adapun yang menjadi Juara 1 adalah Mas Satto Raji dan juara 2 Mas Akbar Muhibar.
Yang bikin saya makin excited (selain nominal hadiah tentunya), semua pemenang utama diundang ke Jakarta untuk menerima penghargaan dan piala secara langsung dari Ibu Nila Moeloek, selaku Menkes pada tanggal 12 November 2018. Trus biaya transportasi dan akomodasi ditanggung oleh Kemenkes, whuaa dapat rejeki dobel-dobel ini namanya. #BerkahNgevlog



Tapi sayangnya saya tidak bisa berbagi kabar bahagia ini di publik (baca: sosmed wekekeke) karena Kemenkes baru akan memberikan pengumuman resmi tanggal 12 November 2018. Jadilah saya hanya berbagi dengan keluarga dan sahabat dekat saja. Bahkan dengan member grup Blogger Kekinian pun saya hanya bilang ada undangan acara dari Kemenkes.

Drama Sebelum ke Jakarta


Sebelum dapat pemberitahuan dari Kemenkes, saya dan istri sudah punya planning mau ke kota Surabaya untuk menghadiri event BUMN dari tanggal 10-11 November 2018. Setelah dipikir masak-masak, lebih efisien jika saya berangkat ke Jakarta dari Surabaya saja. Sementara istri pulang ke Malang sendirian naik kereta. Sengaja dia pesen kereta eksekutif, nggak mau kalah sama saya yang dapat fasilitas naik pesawat Garuda PP wekekekeke.




Ceritanya pagi itu, kami sudah berusaha bangun pagi. Ntah saya yang kelamaan mandi, Mama Ivon yang kelamaan dandan atau kami yang kelamaan kalau sarapan. Kami baru sadar untuk segera berangkat ke Stasiun Gubeng ketika jam sudah menunjukkan pukul 7 lebih. Padahal kereta Mama Ivon berangkat pukul 07.20, sementara saya mengiranya pukul 07.30. Paniklah kami, mana taksi online yang saya pesan tidak kunjung datang.
Kalau di film-film biasanya tokoh utama diceritain bisa datang tepat waktu meski sudah mepet jam keberangkatan. Tapi sayangnya ini bukan film dan kami harus menerima kenyataan jika Mama Ivon ketinggalan kereta. Mama Ivon nangis: sedih dan marah. Dia langsung balik badan begitu petugas kereta bilang kalau kereta yang akan dia naiki baru saja berangkat. Saya sempat ngusulin untuk nyoba ke Stasiun Wonokromo, siapa tahu bisa naik dari sana. Tapi Mama Ivon menolak usulan tersebut mentah-mentah. Emang sih tiketnya sudah hangus tapi tidak ada salahnya kan mencoba, siapa tahu bisa naik dengan menunjukkan bukti pembayaran yang ada di HP-nya.
Mau nggak mau Mama Ivon harus naik bus, saya pun mengantarnya ke Terminal Bungurasih. Perjalanan ke sana terasa berat dan lama karena Mama Ivon memasang muka jutek bin dingin. Saya pun hanya bisa diam saja karena kalau saya berusaha membujuknya yang ada malah saya dikacangin atau dia makin marah. Malu lah sama sopir taksi onlen yang mengantarkan kami. Alhamdulillah, Mama Ivon bisa mendapatkan bus jurusan Surabaya – Malang dengan mudah.
Jujur, sedih rasanya waktu itu karena kami mau berpisah eh malah kayak gini. Maunya kan berpisah dengan senyuman manis bukan dengan wajah ditekuk seperti itu. Setelah mengantar Mama Ivon, saya pun lalu balik lagi ke hotel.

 ***

Kira-kira pukul 10.30 saya check-out dan memesan ojek online untuk ke Bandara Juanda, Sidoarjo. Agak keder juga sih sebenarnya membayangkan perjalanan dari hotel yang berada dekat dengan Stasiun Gubeng ke Bandara Juanda menggunakan motor. Apakah bisa lebih cepat dari naik taksi online atau malah lebih molor.
Pak ojek online yang mengantarkan saya usianya sudah agak tua, mungkin sekitar 40 tahunan. Tapi cara bawa motornya kayak anak-anak muda yang suka ngebut gitu, saya antara senang dan parno jadinya. Seneng karena perjalanan jadi lebih cepat tapi juga parno dengan keselamatan kami. Eh kok ndilalah pas setelah melewati kawasan Ahmad Yani, ada razia lalu lintas dan kami diberhentikan oleh salah satu polisi. Ternyata lampu depan motor kami mati, rupanya Pak Ojol lupa menyalakannya.
“Duh bisa telat neh sampai di bandara,” batin saya.
Proses interogasi pun dijalani, Pak Ojol mau nggak mau ditilang, SIM-nya ditahan dan harus menjalani sidang. Setelah itu kami pun melanjutkan perjalanan ke Juanda. Gitu pun masih sempat ada adegan nanya-nanya ke orang penjual di pinggiran jalan karena Pak Ojol lupa arah jalan ke Juanda. 

“Bentar ya Mas, saya kok lupa ini beloknya dimana. Jangan-jangan kelewatan.”
“Walah, trus gimana Pak?”
“Saya tanya orang dulu.”
Fiuuh, bener-bener perjalanan yang menguji iman eh mental.

Sebenarnya saya sudah beberapa kali ke Bandara Juanda tapi gara-gara insiden ditilang polisi itu saya jadi blang deh. Alhamdulillah, setelah nanya sama penjual tersebut kami jadi lega karena jalan yang kami tempuh ini adalah jalan yang benar bukan jalan yang sesat wekekeke. Saya pun akhirnya bisa sampai di Juanda dengan selamat dan bisa istirahat sambil menunggu jam keberangkatan ke Jakarta.



Makin lega juga setelah dapat kabar Mama Ivon sudah sampai di Malang, kami pun video call karena Duo Ai kepengin liat penampakan bandara dan pesawat dari jarak dekat. Mereka pada nagih kepengin naik pesawat juga kapan-kapan.
Oke, sampai di sini dulu ya tulisannya. Saya takut nanti kalian bosan jika baca tulisan saya yang panjang. Next saya akan bercerita petualangan setibanya di Jakarta yaitu mencoba naik Kereta Layang di Terminal 3 Bandara International Soekarno Hatta.




You May Also Like

8 comments

  1. Selain ngeblog itu seru, ngevlog pun juga malah lebih seru menurutku. Aku pun sedang asik bikin video gitu. Kebanyakan sih seputar beauty. Maklum lah kaum perempuan. Hehehe.

    ReplyDelete
  2. Yey, selamat ya mas atas kemenangan lombanya. Biasanya kalo udah menang sekalo akan terus menerus aamiin. Semoga ketularan

    ReplyDelete
  3. Alhamdulillah... Kerja keras tidak pernah membohongi hasil Bang

    ReplyDelete
  4. Tidak ada usaha yg mengkhianati hasil.... good job, brother

    ReplyDelete
  5. Ngevlog banyak manfaat yang bisa diceritakan, serta berbagai macam pengalaman seru

    ReplyDelete
  6. Keren banget sumpah.. mau niru semangatnya ah

    ReplyDelete
  7. wuahh, aku belum pernah melihat bandara dari jarak dekat, apalagi naek pesawat belum pernah wkwkwkwkwk.... semangat sukses terus mas ihwan... #jejakbiru

    ReplyDelete
  8. selmat ya mas ihwan.. semoga hal ini menjadikan lebih semangat lagi dalam mebuat vlog-vlog baru..

    ReplyDelete