“Kalau besar nanti Aiman mau jadi apa?”
Jawabannya beberapa waktu lalu cukup membuat kami tersenyum.
“Mau jadi game developer.”
Sebagai orang tua, kami sebenarnya tidak terlalu kaget.
Sejak kecil Aiman memang senang bermain game di HP. Kalau sudah menemukan game
yang disukai, rasanya sulit berhenti. Kami pun sempat khawatir karena semakin
lama bermain game berarti semakin lama pula matanya menatap layar.
Tapi kemudian kami berpikir, daripada hanya melarang,
bagaimana kalau ketertarikannya pada game kami arahkan menjadi sesuatu yang
lebih produktif?
Dari situlah muncul ide untuk mengenalkan Aiman pada coding.
Dari Pemain Game Menjadi Pembuat Game
Akhirnya kami mendaftarkan Aiman untuk mengikuti les coding.
Hari pertama les menjadi salah satu momen yang cukup lama
dinantikannya. Bukan hanya karena dia akan belajar sesuatu yang baru, tetapi
karena di kepalanya sudah ada satu impian sederhana: suatu hari nanti bisa
membuat game sendiri.
Bagi kami sebagai orang tua, ini juga menjadi pengalaman
baru.
Selama ini kami melihat HP dan laptop lebih banyak sebagai
sumber hiburan. Sekarang kami mencoba melihatnya dari sisi yang berbeda.
Kalau Aiman memang suka game, mungkin ketertarikan itu bisa
diarahkan untuk belajar bagaimana sebuah game dibuat.
Ia mulai mengenal coding, mencoba memahami perintah-perintah
sederhana, dan belajar bahwa membuat game ternyata tidak semudah memainkannya.
Kami senang melihat antusiasmenya.
Tetapi di sisi lain, ada satu hal yang mulai membuat kami
berpikir ulang.
Screen time-nya bertambah.
Bermain game saja sudah menggunakan layar. Sekarang belajar
coding juga menggunakan laptop atau perangkat digital lainnya.
Artinya, kalau tidak diatur, waktu di depan layar bisa
semakin panjang.
Apalagi Aiman sekarang sudah memakai kacamata karena matanya
minus.
Kami tentu tidak ingin ketertarikannya pada teknologi yang
sebenarnya positif justru membuat kami lupa memperhatikan kenyamanan matanya.
Saat Belajar Coding, Mata Aiman Mulai SePeLe
Kami kemudian mengalami sendiri sebuah kejadian yang membuat
kami semakin sadar.
Saat sedang belajar coding, Aiman mulai mengeluhkan matanya.
Awalnya kami pikir hanya karena terlalu fokus melihat layar.
Tetapi setelah diperhatikan, keluhannya cukup beragam. Matanya terasa sepet,
perih, dan lelah.
Ternyata inilah yang kemudian kami kenal sebagai gejala SePeLe:
Sepet,
Perih,
Lelah.
Kelihatannya sederhana.
Namun bagi anak yang sedang bersemangat belajar sesuatu yang
dia sukai, rasa tidak nyaman di mata tentu bisa mengganggu konsentrasinya.
Kami pun akhirnya tidak ingin menganggap Gejala Mata Kering
sebagai sesuatu yang bisa disepelekan.
Apalagi momen belajar coding seharusnya menjadi pengalaman
menyenangkan bagi Aiman. Kami tidak ingin dia harus berhenti belajar hanya
karena matanya terasa tidak nyaman.
Kami Belajar: Bukan Melarang Screen Time, tetapi
Mengaturnya
Kejadian itu membuat kami berdiskusi lagi sebagai orang tua.
Apakah kami harus melarang Aiman bermain game?
Ternyata jawabannya tidak sesederhana itu.
Kami justru ingin mengajarinya bahwa teknologi bisa
digunakan untuk hal yang menyenangkan sekaligus produktif, tetapi tetap ada
batasnya.
Game boleh.
Belajar coding juga boleh.
Namun keduanya perlu diimbangi dengan aktivitas lain dan
waktu istirahat yang cukup.
Kami mulai membiasakan Aiman untuk tidak terus-menerus
menatap layar. Setelah cukup lama belajar atau bermain, kami mengingatkannya
untuk berhenti sejenak dan mengistirahatkan mata.
Kami juga mengingatkan agar posisi duduk dan jarak pandang
ke layar tetap nyaman. Ketika matanya mulai terasa tidak nyaman, aktivitas di
depan layar dihentikan terlebih dahulu.
Karena ternyata menjadi orang tua di era digital bukan cuma
soal membatasi anak menggunakan gadget.
Kami juga harus belajar mengajarkan anak menggunakan
gadget dengan bijak.
Mengenal Insto Dry Eyes
Dalam usaha kami menjaga kenyamanan mata Aiman, kami
kemudian mengenal INSTO
DRY EYES.
Kami menyediakannya sebagai salah satu bagian dari
perlengkapan ketika mata mulai terasa kering dan tidak nyaman.
Ketika Aiman mengalami keluhan mata saat belajar coding,
kami menggunakan Insto Dry Eyes sesuai petunjuk penggunaan pada kemasan.
Setelah menggunakannya, keluhan mata kering yang dirasakannya terasa lebih
terbantu sehingga ia bisa kembali beraktivitas dengan lebih nyaman.
Bagi kami, keberadaan tetes mata bukan berarti Aiman boleh
menatap layar tanpa batas.
Justru kami melihatnya sebagai salah satu bagian dari
perhatian terhadap mata, bersamaan dengan mengatur durasi screen time dan
memberikan waktu istirahat untuk mata.
Dari Aiman, Kami Belajar bahwa “SePeLe” Tidak Selalu
Sepele
Sebagai orang tua, kadang kami terlalu fokus pada hal besar.
Kami senang melihat Aiman punya minat.
Kami bangga ketika dia mulai belajar coding.
Kami bahkan ikut bersemangat ketika dia bercerita ingin
membuat game sendiri suatu hari nanti.
Tetapi dari pengalaman ini kami diingatkan bahwa hal kecil
seperti mata yang terasa sepet, perih, atau lelah juga perlu diperhatikan.
Karena Mata SePeLe Jangan Disepelein.
Sekarang ketika Aiman bermain game atau belajar coding, kami
tidak lagi sekadar berkata, “Sudah, matikan HP!”
Kami mencoba menggantinya dengan pertanyaan dan kebiasaan
baru:
“Sudah lama belum lihat layar?”
“Matanya nyaman?”
“Yuk, istirahat sebentar.”
Kami ingin Aiman tetap bisa mengejar mimpinya menjadi game
developer, tanpa mengabaikan hal-hal sederhana yang mendukung proses
belajarnya.
Boleh Suka Game, Asal Tahu Cara Menggunakannya
Pada akhirnya, kami tidak ingin mematikan ketertarikan Aiman
pada game.
Justru kami ingin membantunya menemukan sisi lain dari dunia
yang dia sukai.
Dari seorang anak yang senang memainkan game, sekarang dia
mulai belajar bagaimana game dibuat.
Dari sekadar menjadi pemain, kami berharap suatu hari dia
bisa menjadi kreator.
Tetapi perjalanan menuju sana tentu tidak hanya membutuhkan
kemampuan coding. Dia juga perlu belajar mengatur waktu, beristirahat,
bergerak, bersosialisasi, dan menjaga kesehatan tubuhnya, termasuk matanya.
Bagi kami, inilah tantangan menjadi orang tua di era
digital: bukan menjauhkan anak dari teknologi, tetapi mendampinginya agar
teknologi menjadi alat untuk berkembang, bukan sekadar sumber hiburan.
Dan ketika mata mulai terasa SePeLe—Sepet, Perih,
atau Lelah—kami tidak ingin lagi menganggapnya sebagai keluhan kecil
yang bisa diabaikan.
Karena game bisa dimainkan lagi.
Coding bisa dilanjutkan besok.
Tetapi kenyamanan mata tetap harus dijaga sejak sekarang.
Jadi, kalau anak mulai menunjukkan gejala mata kering
setelah terlalu lama beraktivitas di depan layar, jangan tunggu sampai
keluhannya semakin mengganggu. Berikan waktu untuk beristirahat, kurangi screen
time bila diperlukan, dan bila membutuhkan, tetesin Insto Dry Eyes
sesuai petunjuk penggunaannya.
Sebab bagi kami, mendukung mimpi anak bukan hanya tentang
membantunya mencapai cita-cita.
Tetapi juga memastikan dia punya kebiasaan baik untuk
menjalani perjalanan menuju cita-cita tersebut.
#InstoDryEyes #BebasMataKering #MataSePeLeJanganSepelein






No comments